Anak Belum Bisa Jalan di 18 Bulan: Normal atau Waspada?
Milestone12 Agustus 20269 menit baca

Anak Belum Bisa Jalan di 18 Bulan: Normal atau Waspada?

Anak belum bisa jalan di usia 18 bulan? Kenali rentang normal WHO, penyebab yang masih wajar, tanda bahaya, dan cara stimulasi jalan yang aman di rumah.

Disusun oleh AI Tumbuhku

Artikel ini dibuat secara otomatis menggunakan teknologi AI berdasarkan informasi dari sumber medis terpercaya. Konten ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan saran medis profesional. Selalu konsultasikan ke dokter untuk penanganan yang tepat.

"Anak tetangga usianya sama, sudah lari ke sana kemari. Punya saya masih merangkak." Kalimat seperti ini muncul berulang di forum-forum orang tua, biasanya menjelang anak berusia 15-18 bulan. Berjalan mandiri memang salah satu milestone (patokan kemampuan yang umumnya dicapai pada rentang usia tertentu) yang paling ditunggu, sekaligus paling sering dibandingkan antar anak—padahal rentang usianya jauh lebih lebar dibanding milestone lain.

Yang dimaksud "berjalan mandiri" di sini adalah kemampuan anak melangkah beberapa langkah sendiri tanpa berpegangan atau dipegangi orang tua—bukan sekadar berdiri, dan bukan pula "cruising" (berjalan sambil berpegangan pada perabot). Artikel ini membedakan dua hal yang sering tertukar: keterlambatan mencapai kemampuan itu yang masih masuk variasi normal dan bisa dibantu dengan latihan di rumah, versus tanda yang sebaiknya dibawa ke dokter anak lebih cepat. Bunda dan Ayah akan menemukan angka pastinya, bukan sekadar "tenang saja, nanti juga bisa".

Bayi belum jalan di 18 bulan, tanda bahaya atau variasi normal?

Jawaban singkatnya: tergantung apa yang menyertainya. Usia semata jarang cukup untuk menyimpulkan ada masalah. Yang lebih menentukan adalah apakah anak menunjukkan kemajuan dari waktu ke waktu, apakah tonus ototnya wajar, dan apakah kemampuan sebelumnya (duduk, merangkak, berdiri dengan pegangan) sudah dilewati dengan baik.

Sebagian besar anak yang "telat sedikit" dibanding teman sebayanya akan berjalan sendiri tanpa intervensi khusus, hanya dengan lebih banyak kesempatan berlatih. Tapi ada kelompok kecil yang keterlambatannya menandakan sesuatu yang perlu dievaluasi—dan bagian itulah yang paling penting dikenali sejak awal, bukan ditunggu sampai anak jauh melewati usia 2 tahun.

Berapa usia normal anak mulai berjalan menurut WHO?

Di sinilah kebanyakan orang tua butuh angka konkret, bukan sekadar "bervariasi". Studi WHO Motor Development Study yang melibatkan ribuan anak di enam negara mencatat window of achievement (rentang usia pencapaian) untuk berjalan sendiri tanpa pegangan berada di antara 8,2 hingga 17,6 bulan—rentang normal terlebar di antara enam milestone motorik kasar yang diteliti. Artinya, seorang anak yang baru berjalan mandiri di usia 16 bulan masih berada jauh di dalam batas normal, meski tampak "telat" dibanding anak yang sudah jalan di usia 11 bulan.

Info

CDC (Centers for Disease Control and Prevention, lembaga kesehatan masyarakat Amerika Serikat) memperbarui pedoman "Learn the Signs. Act Early." mereka dengan menggeser usia acuan milestone berjalan dari 12 bulan menjadi 18 bulan—perubahan ini menegaskan bahwa banyak anak yang dianggap "telat" pada usia 12-15 bulan sebenarnya masih dalam proses normal, dan usia 18 bulan adalah titik yang lebih tepat untuk mulai skrining bila belum ada tanda berjalan sama sekali.

Karena rentang usianya bergantung pada tanggal lahir anak, langkah pertama yang paling praktis adalah menghitung usia aktual anak secara tepat, bukan menaksir dari ingatan.

Panduan Milestone & Stimulasi Bayi

Masukkan tanggal lahir untuk tahu milestone yang harus dicapai dan tips stimulasi

Dapatkan panduan stimulasi lengkap yang disesuaikan dengan usia si kecil di Tumbuhku.

Pantau perkembangan si kecil di Tumbuhku →

Kenapa anak saya belum jalan padahal usianya sudah lewat rata-rata?

Sebelum mengarah ke kekhawatiran medis, ada beberapa penyebab yang sepenuhnya jinak dan cukup sering ditemui.

Pola gerak berbeda sejak fase merangkak. Sekitar 3-9 persen bayi tidak pernah merangkak dengan tangan dan lutut, melainkan memilih bottom shuffling atau yang biasa disebut "ngesot"—bergerak sambil duduk, mendorong tubuh dengan kedua kaki. Menurut catatan NHS Inform (layanan informasi kesehatan Skotlandia), bayi dengan pola ini umumnya tetap berjalan dengan baik, hanya saja rata-rata pencapaiannya lebih lambat, sekitar 18-24 bulan dibanding 12-18 bulan pada bayi yang merangkak konvensional. Pola ini sering diturunkan dalam keluarga—kalau salah satu orang tua dulu juga ngesot, kemungkinan besar bukan kebetulan.

Kesempatan berlatih yang terbatas. Anak yang jarang diletakkan di lantai, terlalu sering digendong, atau menghabiskan banyak waktu di stroller/baby seat, kehilangan jam latihan yang sebenarnya dibutuhkan otot kaki dan keseimbangannya. Ini bukan salah siapa pun—tapi begitu ruang eksplorasi ditambah, kemajuannya biasanya cepat menyusul.

Perbedaan tipe tubuh dan temperamen. Anak dengan tubuh lebih berisi kadang butuh usaha ekstra untuk menopang berat badannya sendiri saat berdiri. Anak yang secara temperamen lebih berhati-hati juga cenderung menunda mencoba melangkah sampai mereka benar-benar yakin tidak akan jatuh, meski secara fisik sebenarnya sudah mampu.

Tidak satu pun dari tiga hal ini memerlukan penanganan medis—yang dibutuhkan adalah lebih banyak kesempatan berlatih, dan itu akan dibahas di bagian latihan di bawah.

Baby walker: membantu atau justru menghambat anak jalan?

Ini salah satu mitos yang paling gigih bertahan. Banyak orang tua membeli baby walker justru dengan harapan mempercepat anak berjalan. Faktanya berkebalikan.

Perhatian

Menurut IDAI, penggunaan baby walker tidak disarankan karena tidak terbukti mempercepat kemampuan berjalan, bahkan berisiko menunda perkembangan motorik karena anak tidak belajar mengendalikan keseimbangan tubuhnya sendiri. American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren.org turut menegaskan bahwa alat ini juga membawa risiko cedera serius—termasuk jatuh dari tangga—karena anak bisa bergerak sangat cepat sementara orang tua sering kali tidak sempat bereaksi.

Kalau Bunda dan Ayah ingin memberi anak kesempatan "berdiri dan bergerak" dengan aman, push walker yang stabil (mainan dorong beroda dengan alas berat, bukan kursi beroda seperti baby walker) jauh lebih dianjurkan karena anak tetap menopang beratnya sendiri sambil melangkah maju.

Tanda bahaya yang perlu segera diperiksakan ke dokter

Berbeda dari penyebab jinak di atas, sejumlah tanda berikut sebaiknya tidak ditunggu sampai anak berusia 2 tahun. Menurut IDAI, orang tua perlu waspada bila anak menunjukkan salah satu dari:

  • Tonus otot tidak wajar—tubuh terasa sangat kaku (bahu dan kepala cenderung terdorong ke belakang saat akan didudukkan) atau justru sangat lemas seperti "boneka kain" (kondisi ini disebut hipotonia).
  • Pola gerak tidak simetris antara sisi kanan dan kiri tubuh, misalnya satu tangan atau kaki jelas lebih jarang digunakan.
  • Kedua kaki tertekuk naik (bukan menjejak lurus) saat anak dicoba diberdirikan dengan bantuan.
  • Kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai—misalnya dulu sudah bisa berdiri berpegangan, lalu berhenti sama sekali.
  • Tidak menunjukkan minat sama sekali untuk berdiri atau melangkah meski sudah diberi banyak kesempatan dan dukungan.

IDAI juga mencatat bahwa keterlambatan pencapaian motorik kasar—termasuk berjalan—yang disertai kesulitan koordinasi dapat mengarah pada kondisi bernama GPK (Gangguan Perkembangan Koordinasi), sehingga evaluasi dari klinik tumbuh kembang penting dilakukan lebih awal, bukan menunggu anak "keburu besar". Satu hal yang perlu dibedakan: jalan berjinjit (idiopathic toe walking) pada anak yang baru belajar jalan umumnya normal dan biasanya hilang sendiri dalam beberapa bulan. Menurut Cleveland Clinic, ini baru perlu dievaluasi bila menetap setelah usia 2 tahun atau disertai kekakuan otot betis dan kesulitan berjalan dengan tumit menapak penuh.

Kalau yang tertinggal bukan cuma soal berjalan tapi motoriknya secara umum—termasuk menggenggam dan koordinasi tangan—tanda awal motorik delay dan cara menstimulasinya di rumah membahas lebih detail perbedaan antara telat wajar dan red flags yang perlu skrining.

Latihan di rumah yang bisa mempercepat anak jalan mandiri

Bagian ini berlaku untuk anak-anak yang keterlambatannya masih dalam variasi normal—bukan pengganti evaluasi dokter bila ada tanda bahaya di atas.

Tips

Rangkaian latihan yang disarankan IDAI dalam panduan melatih anak berdiri dan berjalan: biasakan anak duduk dengan kedua kaki memijak lantai tanpa sandaran agar otot batang tubuhnya aktif, posisikan mainan sedikit di luar jangkauan agar anak terdorong meraih sambil berdiri, dan ajak bermain yang melatih kaki—kuda-kudaan, bersepeda mainan, bermain sambil berdiri, atau mendorong kursi/mainan beroda.

Beberapa hal praktis lain yang bisa melengkapi latihan di atas:

Beri ruang lantai yang aman dan cukup luas setiap hari, bukan hanya sesekali. Konsistensi harian jauh lebih berpengaruh dibanding sesi latihan panjang tapi jarang.

Kurangi kebiasaan menggendong "demi cepat" saat pindah ruangan, dan gantikan dengan mengajak anak berjalan sendiri walau lambat, selama lingkungannya aman.

Susun perabot rendah dengan jarak yang bisa dijangkau satu-dua langkah, sehingga anak bisa berlatih "cruising"—berjalan sambil berpegangan pada perabot—dari satu titik pegangan ke titik berikutnya secara bertahap.

Untuk gambaran lengkap milestone di rentang usia lain—bukan cuma berjalan—panduan milestone 0-5 tahun dan milestone bulanan di usia golden age bisa jadi acuan tambahan.

0-3 bulan
  • Mengangkat kepala saat tengkurap
  • Mengikuti objek dengan mata
  • Merespon suara
  • Tersenyum responsif
4-6 bulan
  • Berguling dari telentang ke tengkurap
  • Meraih dan menggenggam mainan
  • Mengoceh (babbling)
  • Tertawa keras
7-9 bulan
  • Duduk tanpa bantuan
  • Merangkak
  • Memindahkan benda antar tangan
  • Babbling (mama/dada tanpa arti)
10-12 bulan
  • Berdiri dengan pegangan
  • Berjalan dengan dituntun
  • Mengucap 1-2 kata bermakna
  • Melambaikan tangan
12-18 bulan
  • Berjalan sendiri
  • Memegang sendok
  • Menunjuk bagian tubuh
  • Menyusun 2-3 kata
18-24 bulan
  • Berlari
  • Naik tangga dengan bantuan
  • Menyusun 4-6 kata
  • Menendang bola

Ingin track semua milestone si kecil secara otomatis?

Track semua milestone di Tumbuhku →

Bagaimana proses skrining dan penanganan bila memang terlambat?

Kalau setelah beberapa minggu latihan konsisten belum ada kemajuan, atau salah satu tanda bahaya di atas muncul, langkah selanjutnya cukup jelas dan tidak perlu ditunda.

Konsultasikan ke dokter anak terlebih dahulu. Bawa catatan sederhana: sejak kapan kekhawatiran muncul, kemampuan apa yang sudah dan belum dicapai, serta riwayat kelahiran (termasuk apakah anak lahir prematur, karena usia koreksi memengaruhi patokan milestone).

Dokter biasanya melakukan pemeriksaan fisik dan tonus otot, lalu menentukan apakah perlu skrining perkembangan lebih lanjut atau rujukan ke klinik tumbuh kembang/fisioterapi anak. IDAI menekankan bahwa deteksi dan intervensi yang dimulai lebih awal memberi hasil yang jauh lebih baik dibanding menunggu, karena otak dan sistem motorik anak usia dini masih sangat plastis (mudah dibentuk oleh stimulasi dan latihan).

Bila memang direkomendasikan terapi, peran orang tua tidak berhenti di ruang praktik—mengulang latihan yang diajarkan terapis secara konsisten di rumah adalah bagian yang paling menentukan hasil jangka panjang.

Pantau Milestone Si Kecil dengan Tumbuhku

Baru saja Bunda menghitung usia si Kecil lewat kalkulator di atas dan melihat di mana posisinya pada rentang milestone berjalan. Tapi mengingat-ingat kemajuan dari minggu ke minggu—apakah anak sudah mulai cruising, sudah berapa lama belum ada perubahan—sering kali terlewat di tengah kesibukan harian.

Tumbuhku membantu Bunda dan Ayah memantau ini dengan lebih terarah:

  • Milestone Tracker — mencatat pencapaian motorik, bahasa, dan sosial sesuai usia, termasuk tahapan menuju berjalan mandiri
  • Kalkulator Usia — menghitung usia anak secara akurat, termasuk usia koreksi untuk anak lahir prematur
  • Aktivitas Stimulasi — rekomendasi latihan harian yang sesuai usia dan tahap perkembangan anak
  • Deteksi Dini — mengingatkan bila ada milestone yang sebaiknya mulai dipantau lebih dekat

Dengan pencatatan yang konsisten, Bunda tidak perlu menebak-nebak apakah kemajuan anak sudah cukup atau perlu didiskusikan dengan dokter—datanya sudah tersusun rapi setiap kali dibutuhkan.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Sampai usia berapa anak belum jalan masih dianggap normal?

Menurut studi WHO Motor Development Study, 99 persen anak sehat sudah berjalan sendiri sebelum usia 17,6 bulan, sehingga usia 18 bulan umumnya dipakai sebagai batas evaluasi. Sebelum itu, rentang usia berjalan sangat lebar dan sebagian besar anak yang belum jalan pada 14-16 bulan masih dalam variasi normal.

Apakah bottom shuffling (ngesot) tanda anak akan terlambat jalan?

Tidak selalu. Sekitar 3-9 persen bayi memang lebih suka bergerak dengan duduk dan mendorong tubuh memakai kaki dibanding merangkak, dan kebanyakan tetap berjalan dengan baik meski biasanya lebih lambat, sekitar usia 18-24 bulan. Yang perlu diwaspadai adalah bila disertai tonus otot yang sangat lemas atau tidak ada kemajuan sama sekali.

Apakah baby walker bisa mempercepat anak belajar jalan?

Tidak. IDAI dan berbagai organisasi kesehatan anak menyebutkan baby walker tidak mempercepat, bahkan berpotensi menunda kemampuan berjalan mandiri karena anak tidak berlatih menyeimbangkan tubuhnya sendiri. Alat ini juga berisiko tinggi menyebabkan cedera akibat jatuh atau terguling.

Apa tanda bahaya yang harus segera diperiksakan ke dokter?

Segera konsultasikan bila tonus otot terasa sangat kaku atau sangat lemas, gerakan satu sisi tubuh jelas berbeda dari sisi lain, anak kehilangan kemampuan yang sudah dikuasai, atau kedua kaki tertekuk naik saat dicoba diberdirikan. Tanda-tanda ini berbeda dari sekadar 'anak memang belum siap'.

Latihan apa yang paling efektif membantu anak mulai berjalan?

Latihan cruising (berjalan sambil berpegangan pada perabot) dan berdiri dengan pegangan tangan orang tua adalah dua latihan yang paling langsung melatih otot dan keseimbangan yang dibutuhkan untuk berjalan mandiri. Memberi ruang eksplorasi tanpa terlalu sering digendong juga berpengaruh besar.

Catatan Medis

Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan. Bila Bunda mengalami masalah atau kekhawatiran terkait kesehatan si kecil, segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan untuk evaluasi dan penanganan yang tepat.

Referensi

  1. IDAI: Tips Melatih Anak Berdiri dan Berjalan
  2. IDAI: Mengenal Keterlambatan Perkembangan Umum pada Anak
  3. IDAI: Penggunaan Baby Walker
  4. IDAI: Anak Lamban Akibat Gangguan Perkembangan Koordinasi (GPK)
  5. Ayo Sehat Kemenkes: Rahasia Anak Sehat dan Cerdas, Lakukan Stimulasi Tumbuh Kembang dengan Buku KIA
  6. WHO: Motor Development Milestones (Child Growth Standards)
  7. CDC: Milestones by 18 Months (Learn the Signs. Act Early.)
  8. HealthyChildren.org (AAP): Baby Walkers, A Dangerous Choice
  9. NHS Inform: Bottom Shuffling in Young Children
  10. Cleveland Clinic: Toe Walking, Symptoms & Causes
Bagikan Artikel

Bantu orang tua lain dengan membagikan informasi ini.

Pantau tumbuh kembang si kecil dengan data yang jelas

Catat milestone, pantau pertumbuhan, dan jadwal imunisasi — semua gratis.

Coba Tumbuhku gratis

Tidak perlu kartu kredit