Imunisasi Anak Sekolah BIAS: Vaksin Apa Saja & Kapan?
Vaksin8 Agustus 202613 menit baca

Imunisasi Anak Sekolah BIAS: Vaksin Apa Saja & Kapan?

Vaksin BIAS per kelas, jadwal Agustus dan November, aturan HPV 1 dosis, dan status HPV anak laki-laki yang mulai berjalan di sebagian daerah tahun ini.

Disusun oleh AI Tumbuhku

Artikel ini dibuat secara otomatis menggunakan teknologi AI berdasarkan informasi dari sumber medis terpercaya. Konten ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan saran medis profesional. Selalu konsultasikan ke dokter untuk penanganan yang tepat.

Setiap Agustus dan November, ribuan anak SD pulang membawa selembar surat persetujuan imunisasi. Program di baliknya bernama BIAS, dan kepanjangannya jarang tertulis di surat itu: Bulan Imunisasi Anak Sekolah. BIAS adalah layanan imunisasi yang diberikan Kemenkes langsung di sekolah, dua kali setahun, untuk murid kelas 1, 2, 5, 6, dan 9. Orang tua diminta menandatangani, sering tanpa penjelasan yang cukup: vaksin apa yang akan disuntikkan, kenapa harus di usia itu, dan apa yang terjadi kalau dilewatkan.

Kemenkes menempatkan BIAS sebagai bagian dari Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), dan isinya bukan vaksin tambahan yang opsional, melainkan dosis penguat yang jadwalnya memang jatuh di usia sekolah.

Tulisan ini menjawab apa yang biasanya tidak muat di selebaran: daftar vaksin per kelas beserta bulannya, kenapa anak yang sudah lengkap imunisasinya saat bayi tetap perlu disuntik lagi, aturan HPV yang berubah sejak 2025, dan apa yang harus dilakukan kalau anak kebetulan sakit di hari pelaksanaan.

Apa Itu BIAS dan Kenapa Vaksinnya Diberikan di Sekolah

BIAS adalah layanan imunisasi yang dijalankan Kemenkes melalui sekolah, madrasah, dan pesantren, dua kali setahun: Agustus dan November.

Alasan pelaksanaannya di sekolah cukup praktis. Pada usia balita, orang tua rutin membawa anak ke posyandu, sehingga cakupan imunisasi relatif terjaga. Begitu anak masuk SD, kunjungan rutin itu berhenti — padahal justru di rentang usia 7 sampai 12 tahun ada beberapa dosis penguat yang jadwalnya jatuh tempo. Menitipkannya di sekolah membuat anak tetap terjangkau tanpa orang tua harus mengambil cuti.

Kemenkes menyebutkan BIAS bermanfaat mencegah difteri, tetanus, campak, rubela, dan kanker leher rahim — penyakit yang bisa menyebabkan sakit berat, kecacatan, sampai kematian.

Untuk anak usia sekolah yang tidak bersekolah formal, layanan yang sama tetap tersedia. Kemenkes menyatakan mereka dapat mengikuti BIAS di puskesmas, posyandu, dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Jadi tidak ada anak yang gugur haknya hanya karena tidak terdaftar di sekolah.

Info

BIAS bukan program terpisah dari imunisasi rutin yang Bunda kenal sejak anak bayi. Ia adalah kelanjutan dari jadwal yang sama, hanya saja titik layanannya berpindah dari posyandu ke sekolah karena di usia inilah anak paling mudah dijangkau.

Vaksin Apa Saja, di Kelas Berapa, Bulan Apa

Ini bagian yang paling sering ditanyakan, dan yang paling jarang tertulis lengkap di surat persetujuan. Berikut jadwal yang dipublikasikan Kemenkes:

KelasUsiaVaksinBulan
Kelas 17 tahunCampak-Rubela (MR)Agustus
Kelas 17 tahunDT (Difteri Tetanus)November
Kelas 28 tahunTd (Tetanus Difteri)November
Kelas 511 tahunHPV — anak perempuan, dan anak laki-laki (tergantung daerah)Agustus
Kelas 511 tahunTd (Tetanus Difteri)November
Kelas 612 tahunHPV kejar — anak perempuanAgustus
Kelas 9 SMP15 tahunHPV kejar — anak perempuanAgustus

Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom.

Beberapa hal yang berguna Bunda ketahui saat membaca tabel ini:

  • Kelas 1 mendapat dua suntikan dalam satu tahun ajaran, tapi di bulan berbeda — MR di Agustus, DT di November. Ini normal, bukan kesalahan jadwal.
  • DT dan Td bukan vaksin yang sama. Keduanya melindungi dari difteri dan tetanus, tetapi kadar komponen difterinya berbeda dan disesuaikan dengan usia anak.
  • BIAS tidak berhenti di SD. Kelas 9 SMP termasuk sasaran, dan ini yang paling sering luput — banyak orang tua mengira imunisasi sekolah selesai saat anak lulus SD. Yang menjadi patokan sebenarnya usia, bukan label kelasnya: imunisasi rutin di usia 11 tahun, kejar di usia 12 dan 15 tahun. Jadi kalau anak Bunda berusia 15 tahun tetapi belum duduk di kelas 9, tanyakan tetap — ia bisa saja masuk sasaran.
  • HPV di kelas 6 dan kelas 9 berstatus kejar dan ditujukan bagi anak perempuan, yaitu yang sama sekali belum pernah menerimanya di kelas 5. Kalau anak perempuan Bunda sudah mendapat HPV di kelas 5, ia tidak perlu diulang di kelas 6 maupun kelas 9.

Kalau Bunda ingin melihat posisi vaksin-vaksin ini dalam keseluruhan jadwal sejak anak lahir, ceklis berikut memuatnya dari usia 0 bulan sampai kelas 9 SMP — dan bisa ditandai satu per satu sesuai yang sudah diterima si kecil:

Ceklis imunisasi anak

Rekomendasi IDAI 2024 (terbit 5 Februari 2025), imunisasi usia sekolah mengikuti program BIAS Kemenkes.

0 dari 53 vaksin selesai0%
Baru lahir
2 bulan
3 bulan
4 bulan
6 bulan
4 minggu setelah dosis pertama
9 bulan
12-15 bulan
12 bulan
6 minggu sampai 3 bulan setelah dosis pertama
15-18 bulan
18 bulan
6-18 bulan setelah dosis pertama
1-2 tahun setelah dosis pertama
2 tahun
5 tahun
5-7 tahunKelas 1 SD
6 tahun
3 bulan setelah dosis pertama
8 tahun
9-14 tahunKelas 5 SD
6-12 bulan setelah dosis pertama
10-18 tahunKelas 5 SD
11 tahun
11 tahun (Kelas 5 SD)Kelas 5 SD
12 tahunKelas 6 SD
14 tahun
15 tahun
1-2 bulan setelah dosis pertama
6 bulan setelah dosis pertama
17 tahun

Jadwal ini dapat disesuaikan oleh dokter. Selalu konsultasikan dengan dokter anak untuk jadwal yang tepat untuk si kecil.

Simpan riwayat lengkap di Tumbuhku →

Untuk gambaran yang lebih lengkap tentang jadwal usia balita beserta strategi bila ada yang tertinggal, panduan jadwal imunisasi anak IDAI 2024 membahasnya lebih rinci.

HPV Sekarang Cukup Satu Dosis, dan Kenapa Bunda Menemukan Angka Berbeda

Kalau Bunda mencari "vaksin HPV berapa dosis" di internet, hasilnya akan membingungkan. Ada yang menyebut dua dosis, ada yang tiga. Penjelasannya sederhana: kebijakannya memang berubah.

Sejak 2025, program nasional Indonesia memakai satu dosis. Kemenkes menyatakan pemberian imunisasi HPV cukup satu dosis jika diberikan sebelum usia 20 tahun, dengan pertimbangan kajian Strategic Advisory Group of Experts on Immunization (SAGE), kelompok ahli imunisasi WHO.

Dasarnya bukan penghematan. WHO memperbarui rekomendasinya setelah tinjauan bukti menyimpulkan bahwa jadwal satu dosis memberikan efikasi dan daya tahan perlindungan yang sebanding dengan dua dosis pada kelompok usia sasaran. WHO kini merekomendasikan satu atau dua dosis untuk anak usia 9 sampai 14 tahun.

Artikel-artikel lama yang menyebut dua atau tiga dosis — termasuk tulisan IDAI tentang vaksin HPV yang terbit sebelum perubahan ini — tidak salah pada zamannya. Keduanya hanya berasal dari periode kebijakan yang berbeda. Yang berlaku untuk anak Bunda yang ikut BIAS tahun ini adalah aturan satu dosis.

Mulai Agustus 2026, Anak Laki-Laki Juga Mendapat Vaksin HPV

Ini yang baru tahun ini, dan banyak orang tua belum mendengarnya: BIAS Agustus 2026 menandai pertama kalinya vaksin HPV diberikan kepada anak laki-laki melalui program pemerintah.

Sasarannya sama persis dengan anak perempuan — kelas 5 SD atau usia 11 tahun, satu dosis. Salah satu dinas kesehatan daerah menyebut pelaksanaannya mengacu pada Surat Edaran Direktur Jenderal P2P Nomor IM.01.01/C/4308/2026 tertanggal 9 Juli 2026, dan menegaskan inilah yang membedakan BIAS tahun ini dari tahun-tahun sebelumnya. Surat edaran ini sendiri belum berhasil kami peroleh langsung, jadi Bunda tetap perlu memastikan ke puskesmas atau sekolah anak apakah wilayah tempat tinggal sudah termasuk yang menjalankannya.

Satu hal yang perlu diluruskan supaya Bunda tidak salah harap: untuk tahun ini, sasaran anak laki-laki hanya kelas 5. Imunisasi kejar di kelas 6 dan kelas 9 masih ditujukan bagi anak perempuan. Wajar saja — 2026 adalah tahun pertama anak laki-laki masuk program, sehingga belum ada angkatan laki-laki yang perlu dikejar. Jadi kalau anak laki-laki Bunda sekarang kelas 6, ia belum menjadi sasaran BIAS tahun ini meski tinggal di daerah yang sudah mulai menjalankan program ini.

Tetapi — dan ini bagian pentingnya — belum semua daerah.

Kemenkes menjalankan perluasannya bertahap per daerah, bukan serentak secara nasional. Sejauh ini sudah ada daerah yang mulai menjalankannya sejak Agustus 2026, dengan rencana perluasan ke daerah lain pada tahun-tahun berikutnya — tetapi urutan dan waktunya belum terkunci dan bisa bergeser. Karena itu, daftar wilayah mana saja yang sudah berjalan tahun ini paling akurat ditanyakan langsung ke sekolah anak atau puskesmas setempat, bukan dari daftar yang beredar di internet.

Kenapa tidak langsung serentak? Direktur Imunisasi Kemenkes, dr. Indri Yogyaswari, menjelaskan syaratnya: cakupan imunisasi HPV pada anak perempuan di wilayah itu harus sudah mencapai 90 persen lebih dulu. Kriteria ini mengikuti rekomendasi Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional dan WHO. Logikanya, melindungi kelompok dengan risiko kanker tertinggi diselesaikan dulu sebelum sasaran diperluas.

Salah satu daerah yang sudah masuk program menunjukkan bagaimana aturan itu bekerja: dinas kesehatan setempat melaporkan capaian imunisasi HPV pada anak perempuan di wilayahnya termasuk yang tertinggi di Indonesia sebelum anak laki-laki dilibatkan. Jadi daerah tidak dipilih secara acak, melainkan karena pekerjaan pada anak perempuan sudah hampir tuntas lebih dulu.

Lalu kenapa anak laki-laki perlu divaksin untuk penyakit yang dikenal sebagai kanker perempuan? Ada dua alasan yang dijelaskan Kemenkes. Pertama, HPV juga menyebabkan penyakit pada laki-laki — kutil kelamin serta kanker anus, penis, dan orofaring. Kedua, memutus rantai penularan: selama satu kelompok tidak divaksin, virusnya tetap beredar dan pasangannya kelak tetap berisiko.

Tips

Kalau anak laki-laki Bunda kelas 5, cara paling pasti untuk tahu apakah sekolahnya termasuk sasaran BIAS Agustus ini adalah bertanya langsung ke wali kelas atau puskesmas setempat — pelaksanaannya memang tergantung daerah, belum merata di seluruh Indonesia. Kalau daerah Bunda belum menjalankannya dan ingin lebih cepat, jalurnya adalah imunisasi mandiri di klinik atau rumah sakit, dan itu perlu didiskusikan dulu dengan dokter anak.

Info

WHO mencatat hampir semua kasus kanker leher rahim disebabkan infeksi HPV tipe onkogenik, dengan tipe 16 dan 18 bertanggung jawab atas sekitar 76 persen kasus di dunia. Vaksinasi dianjurkan pada usia 9 sampai 14 tahun — sebelum kemungkinan paparan terjadi — dan itulah alasan jadwalnya jatuh di kelas 5, bukan nanti saat anak remaja.

Anak Sudah Imunisasi Lengkap Saat Bayi, Kenapa Disuntik Lagi?

Ini keberatan yang paling sering muncul, dan pertanyaannya masuk akal. Jawabannya terletak pada cara kerja kekebalan itu sendiri.

Kekebalan dari vaksin difteri dan tetanus tidak bertahan seumur hidup. WHO menyatakan dibutuhkan beberapa dosis dan dosis penguat untuk membentuk sekaligus mempertahankan kekebalan — tiga dosis primer di masa bayi, ditambah tiga dosis penguat pada masa kanak-kanak dan remaja. Suntikan DT di kelas 1 dan Td di kelas 2 serta kelas 5 adalah bagian dari rangkaian itu, bukan pengulangan karena yang dulu dianggap gagal.

IDAI menegaskan hal serupa dalam himbauannya tentang kewaspadaan kasus difteri: anak usia sekolah mendapat imunisasi difteri melalui program BIAS, dan setelahnya imunisasi ulangan dilakukan setiap 10 tahun, termasuk pada orang dewasa. Difteri disebut IDAI sebagai penyakit yang sangat menular dan dapat menyebabkan kematian, dengan imunisasi sebagai perlindungan terbaik.

Untuk campak, alasannya sedikit berbeda. WHO menjelaskan bahwa tidak semua anak membentuk kekebalan dari dosis pertama, sehingga dosis kedua diperlukan untuk menutup celah tersebut. Konsekuensi campak pada anak bukan hal ringan: WHO mendaftarkan kebutaan, radang otak, diare berat disertai dehidrasi, infeksi telinga, sampai pneumonia sebagai komplikasi yang mungkin terjadi.

Tips

Bawa dan simpan catatan imunisasi anak — buku KIA, kartu imunisasi, atau fotonya di ponsel — bahkan setelah anak masuk SD. Saat pindah sekolah atau pindah kota, catatan inilah satu-satunya bukti vaksin mana yang sudah diterima, dan tanpa itu petugas hanya bisa menebak.

Efek Samping Setelah Imunisasi di Sekolah: Mana yang Wajar

Anak pulang dengan lengan nyeri dan badan hangat adalah pemandangan biasa di malam setelah BIAS. Reaksi ringan seperti ini justru menandakan sistem imun sedang membentuk perlindungan.

Yang membedakan reaksi wajar dari yang perlu ditindaklanjuti terletak pada jenis, waktu munculnya, dan seberapa cepat membaik:

Efek Samping yang Normal Setelah Imunisasi

KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) ringan adalah tanda sistem imun sedang merespons vaksin

Efek SampingBiasanya MunculCara Mengatasi
Demam ringan (< 38°C)6-12 jam setelah vaksinKompres hangat, perbanyak cairan (ASI/Susu)
Kemerahan di bekas suntikan24-48 jamKompres dingin perlahan, jangan digosok
Rewel atau mengantuk1-2 hariBerikan perhatian ekstra dan istirahat cukup
Pembengkakan ringan2-3 hariKompres dingin pada area yang bengkak

Karena vaksin BIAS disuntikkan di lengan atas, keluhan tersering adalah nyeri lokal yang membuat anak enggan menggerakkan tangannya selama sehari-dua hari. Kompres dingin sebentar dan menggerakkan lengan secara perlahan justru membantu, karena membiarkan lengan kaku sepanjang hari cenderung memperlama pegalnya.

Pembahasan lebih dalam tentang pola demam pasca-imunisasi — jam ke berapa muncul, berapa lama wajar berlangsung, dan tanda apa yang tidak boleh ditunda — ada di artikel tentang demam setelah imunisasi.

Perhatian

Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan bila setelah imunisasi muncul: sesak napas, bengkak pada wajah atau bibir, ruam luas yang menyebar cepat, kejang, atau anak yang sangat lemas dan sulit dibangunkan. Reaksi berat seperti ini jarang terjadi, tetapi penanganannya tidak boleh ditunda sampai besok pagi.

Anak Sakit atau Tidak Masuk di Hari BIAS

Kabar baiknya: imunisasinya tidak hangus. Kemenkes menyatakan anak yang berhalangan saat hari pelaksanaan di sekolah tetap dapat memperoleh imunisasi tersebut di puskesmas atau fasilitas kesehatan lain setelahnya.

Yang perlu Bunda lakukan cukup tiga langkah:

  1. Tanyakan ke wali kelas vaksin apa yang diberikan hari itu, dan catat namanya. Jangan mengandalkan ingatan anak — "disuntik di lengan" tidak cukup untuk menentukan jenisnya.
  2. Bawa anak ke puskesmas dengan membawa buku KIA atau catatan imunisasi yang ada.
  3. Minta jadwal susulan yang jelas sebelum pulang, supaya tidak muncul celah baru.

Satu prinsip yang menenangkan, dan sering tidak diketahui orang tua: keterlambatan tidak berarti mengulang dari nol. IDAI menyatakan bila imunisasi terlambat diberikan, berapa pun interval keterlambatannya, jangan mengulang dari awal — lanjutkan sesuai jadwal dari titik terakhir yang sudah diterima anak.

Kalau anak sedang batuk pilek ringan tanpa demam, umumnya imunisasi masih bisa berjalan, tetapi keputusannya tetap di tangan petugas yang memeriksa anak hari itu. Yang penting: bila memang ditunda, jangan pulang tanpa jadwal pengganti.

Menyiapkan Anak Sebelum Hari Imunisasi

Anak usia SD sudah cukup besar untuk cemas, dan kecemasan itu nyata — sebagian menangis bukan karena sakit, melainkan karena tidak tahu apa yang akan terjadi.

Beberapa hal sederhana yang membantu:

  • Beri tahu sebelumnya, jangan dirahasiakan. Anak yang dikejutkan cenderung merasa dibohongi, dan itu terbawa ke imunisasi berikutnya.
  • Jangan menjanjikan "tidak sakit sama sekali". Lebih baik jujur: rasanya seperti dicubit sebentar, lalu selesai.
  • Pastikan anak sarapan pagi itu. Perut kosong meningkatkan kemungkinan pusing atau pingsan saat disuntik, terutama pada anak kelas 5 dan 6.
  • Pakaikan seragam berlengan longgar supaya lengan atas mudah dijangkau tanpa anak harus membuka baju di depan teman-temannya.

Kesiapan menghadapi hari-hari seperti ini bagian dari kesiapan sekolah secara umum, yang dibahas lebih luas di checklist kesiapan anak masuk sekolah.

Bunda juga perlu tahu bahwa daftar vaksin dalam program nasional terus bertambah. Kemenkes memperluas imunisasi rutin dari 11 menjadi 14 jenis dengan menambahkan HPV, PCV untuk mencegah pneumonia dan radang selaput otak, serta rotavirus untuk mencegah diare berat pada bayi — seluruhnya tanpa biaya.

Pantau Jadwal Imunisasi dengan Tumbuhku

Selebaran persetujuan yang tadi Bunda tanda tangani biasanya berakhir di dalam tas, lalu hilang. Setahun kemudian, saat sekolah menanyakan riwayat imunisasi atau anak pindah kota, catatan itu sudah tidak ada — dan yang tersisa hanya ingatan bahwa "sepertinya sudah pernah disuntik waktu kelas 1".

Masalahnya bukan orang tua tidak peduli. Jadwal BIAS tersebar di dua bulan berbeda, lintas beberapa tahun ajaran, dengan jenis vaksin yang mirip namanya. Mengandalkan hafalan untuk sesuatu yang rentangnya enam tahun jarang berhasil.

Tumbuhku dibuat untuk memegang bagian itu:

  • Jadwal Vaksinasi Otomatis — memetakan vaksin mana yang jatuh di usia berapa, termasuk dosis penguat usia sekolah yang paling sering terlewat.
  • Riwayat Imunisasi Digital — menyimpan catatan vaksin yang sudah diterima anak, lengkap dengan tanggalnya, sehingga tidak bergantung pada selembar kertas.
  • Pengingat Jadwal — memberi tahu sebelum bulan pelaksanaan tiba, bukan setelah lewat.
  • Info Vaksin Lengkap — menjelaskan setiap vaksin pada jadwal di atas beserta manfaatnya, supaya Bunda menandatangani surat persetujuan dengan tahu isinya.

Dengan catatan yang utuh, pertanyaan "anak saya sudah pernah dapat vaksin ini belum?" bisa dijawab dalam hitungan detik — di ruang praktik dokter, di puskesmas, atau saat mengisi formulir pendaftaran sekolah baru.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Anak saya sudah imunisasi lengkap waktu bayi, kenapa masih disuntik lagi di sekolah?

Karena kekebalan dari vaksin difteri dan tetanus menurun seiring waktu, bukan bertahan selamanya. WHO menyatakan dibutuhkan dosis primer di masa bayi ditambah dosis penguat pada masa kanak-kanak dan remaja untuk membentuk sekaligus mempertahankan kekebalan. Suntikan di sekolah adalah dosis penguat itu, bukan pengulangan karena yang dulu dianggap gagal.

Vaksin HPV sekarang satu dosis atau dua dosis?

Untuk program nasional Indonesia, sejak 2025 cukup satu dosis. Kemenkes menyatakan pemberian imunisasi HPV cukup satu dosis jika diberikan sebelum usia 20 tahun, mengikuti kajian kelompok ahli imunisasi WHO. Artikel lama yang menyebut dua atau tiga dosis ditulis sebelum kebijakan ini berubah, jadi wajar kalau Bunda menemukan angka berbeda saat mencari di internet.

Anak sakit atau tidak masuk sekolah pada hari BIAS, bagaimana?

Imunisasinya tidak hangus. Anak yang absen saat hari pelaksanaan tetap bisa mendapatkan vaksin yang sama di puskesmas atau fasilitas kesehatan lain setelahnya. Yang perlu Bunda lakukan adalah menanyakan ke wali kelas vaksin apa yang diberikan hari itu, lalu membawa anak ke puskesmas dengan membawa catatan imunisasinya.

Apakah orang tua boleh menolak imunisasi di sekolah?

Sekolah meminta persetujuan orang tua sebelum pelaksanaan, sehingga secara praktik keputusan ada di tangan Bunda dan Ayah. Namun sebelum memutuskan, pertimbangkan bahwa vaksin yang diberikan melindungi dari campak, rubela, difteri, tetanus, dan kanker leher rahim. Bila ada keraguan atau kondisi kesehatan khusus pada anak, diskusikan dulu dengan dokter atau petugas puskesmas, bukan langsung menolak.

Apakah anak laki-laki juga mendapat vaksin HPV di sekolah?

Mulai BIAS Agustus 2026, sebagian daerah sudah mulai memberikannya — tetapi pelaksanaannya tergantung daerah, belum merata di seluruh Indonesia. Sasarannya sama dengan anak perempuan, yaitu kelas 5 SD atau usia 11 tahun dengan satu dosis. Syarat sebuah daerah bisa masuk adalah cakupan HPV pada anak perempuan di wilayah itu sudah mencapai ambang tertentu, dan Kemenkes memperluasnya bertahap ke daerah lain. Karena urutan dan waktunya belum terkunci, cara paling pasti untuk tahu status di wilayah Bunda adalah bertanya langsung ke wali kelas, sekolah, atau puskesmas setempat.

Catatan Medis

Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan. Bila Bunda mengalami masalah atau kekhawatiran terkait kesehatan si kecil, segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan untuk evaluasi dan penanganan yang tepat.

Referensi

  1. Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) — Ayo Sehat, Kemenkes RI
  2. Agenda Kegiatan: Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) — Ayo Sehat, Kemenkes RI
  3. Vaksin HPV, Mencegah Kanker Leher Rahim Demi Mewujudkan Generasi Sehat — Ayo Sehat, Kemenkes RI
  4. Kemenkes Tambah 3 Jenis Vaksin Imunisasi Rutin, Salah Satunya HPV (Kemenkes RI)
  5. Himbauan IDAI Tentang Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Kasus Difteri (IDAI)
  6. Melengkapi dan Mengejar Imunisasi, Bagian II (IDAI)
  7. Sekilas tentang Vaksin HPV (IDAI)
  8. Imunisasi HPV Anak Laki-Laki Agustus 2026 — Penjelasan Resmi Dinas Kesehatan Daerah
  9. Vaksin HPV Anak Laki-laki Mulai Diberikan di 3 Provinsi pada 2026 — wawancara Direktur Imunisasi Kemenkes
  10. Kemenkes: Anak Lelaki Juga Divaksin HPV guna Eliminasi Kanker Serviks (ANTARA)
  11. Daerah Percontohan Nasional: Imunisasi HPV Jangkau Anak Laki-laki — keterangan dinas kesehatan setempat
  12. WHO updates recommendations on HPV vaccination schedule (WHO)
  13. Cervical cancer — Fact sheet (WHO)
  14. Measles — Fact sheet (WHO)
  15. Diphtheria — Fact sheet (WHO)
Bagikan Artikel

Bantu orang tua lain dengan membagikan informasi ini.

Pantau tumbuh kembang si kecil dengan data yang jelas

Catat milestone, pantau pertumbuhan, dan jadwal imunisasi — semua gratis.

Coba Tumbuhku gratis

Tidak perlu kartu kredit