Ruam di telapak tangan, sariawan yang membuat si kecil menolak makan, dan demam yang muncul lebih dulu. Kombinasi itu yang biasanya membuat orang tua mencari nama "flu Singapura" di grup chat.
Nama yang dipakai IDAI dan Kemenkes adalah penyakit tangan, kaki, dan mulut, atau hand, foot, and mouth disease (HFMD). Sebagian besar kasusnya ringan. Yang perlu Bunda kenali adalah pola gejalanya, cara menjaga cairan masuk, dan titik di mana anak harus diperiksa, karena sariawan di mulut bisa membuat si kecil berhenti minum.
Bukan Flu Biasa, dan Bukan Penyakit Hewan
IDAI menjelaskan HFMD disebabkan virus dari genus enterovirus. Yang paling sering disebut adalah Coxsackievirus dan Human Enterovirus 71 (HEV 71). Halaman Kemenkes menambahkan coxsackievirus A16, EV 71, dan echovirus ke dalam daftar penyebab yang sama.
Kemenkes juga mengingatkan sebutan "flu Singapura" mudah menyesatkan. Ini bukan influenza. Masa inkubasi yang ditulis Kemenkes berkisar 3 sampai 7 hari. Setelah itu muncul demam, ruam, dan lepuh kecil di telapak tangan, telapak kaki, serta selaput mulut, disertai nafsu makan yang turun, rasa tidak enak badan, dan nyeri tenggorokan.
Satu mitos lain yang perlu dipisahkan: penyakit ini tidak sama dengan penyakit mulut dan kuku pada sapi atau kambing. Artikel Ditjen Kesehatan Lanjutan Kemenkes menulis HFMD pada manusia berbeda dari penyakit mulut dan kuku hewan. Penyebab hewan itu virus yang lain, dan keduanya tidak saling menularkan.
Orang dewasa dengan daya tahan yang baik bisa tertular tanpa gejala sama sekali. IDAI menyebut kelompok ini bukan penderita yang tampak sakit, tetapi tetap dapat membawa virus dan menularkannya.
HFMD paling menular pada minggu pertama sakit. Virus keluar lewat ingus, ludah, dahak, cairan lepuh yang pecah, dan tinja. Kontak erat, percikan batuk atau bersin, serta permukaan seperti gagang pintu yang tercemar ikut menyebarkannya.
Urutan Gejala yang Biasanya Terlihat di Rumah
IDAI menggambarkan perjalanan yang cukup khas, dan urutan ini membantu membedakannya dari ruam alergi atau sariawan biasa.
| Waktu | Yang biasanya muncul |
|---|---|
| Awal sakit | Demam, nyeri menelan, nafsu makan turun, badan tidak enak |
| Satu sampai dua hari setelah demam | Bintik merah di rongga mulut, sering mulai di langit-langit belakang, lalu pecah menjadi sariawan |
| Satu sampai dua hari berikutnya | Ruam dan bintik merah di telapak tangan dan telapak kaki |
| Bersamaan atau menyusul | Ruam dapat muncul juga di tungkai, lengan, bokong, dan kulit sekitar kemaluan |
Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom.
Kemenkes menggambarkan keluhan mulut yang sama: nyeri berawal dari lepuh yang dapat menjadi luka di lidah, gusi, atau bagian dalam mulut lain. Hampir semua anak yang kesakitan di mulut akan terlihat rewel saat makan. Artikel Kemenkes tentang dehidrasi pada HFMD menuliskan luka di mulut dan lidah dapat menyatu sehingga lidah terasa bengkak, dan keadaan itu menyulitkan anak makan serta minum.
IDAI juga mencatat satu kelanjutan yang sering mengejutkan orang tua beberapa minggu kemudian: kuku jari tangan atau kaki dapat terlepas. Kelainan itu bersifat sementara, dan kuku dapat tumbuh kembali. Ini bukan alasan panik, tetapi tetap layak diceritakan ke dokter bila Bunda tidak yakin.
Ilustrasi clay telapak tangan dan kaki dengan bintik kecil, plus gelas minum
Perawatan di Rumah: Redakan Nyeri, Jaga Minum
IDAI menyatakan tidak ada pengobatan khusus untuk HFMD. Pengobatannya simptomatik, yaitu mengatasi keluhan yang timbul.
Yang disebutkan IDAI untuk dipakai di rumah:
- Parasetamol untuk demam dan nyeri, sesuai anjuran tenaga kesehatan dan dosis pada kemasan untuk usia serta berat anak
- Kompres hangat
- Minum yang lebih sering, untuk membantu menurunkan demam sekaligus menjaga cairan
- Pada anak yang lebih besar, kumur dengan obat kumur dapat mengurangi nyeri luka di mulut
Kemenkes menuliskan penyakit ini pada umumnya bukan penyakit berat dan sembuh dalam 7 sampai 10 hari dengan pengobatan suportif. Artinya, target di rumah bukan "memberantas virus dengan antibiotik". Antibiotik tidak membunuh virus penyebab HFMD, dan IDAI tidak mencantumkannya sebagai pengobatan.
IDAI tidak mencantumkan antibiotik sebagai pengobatan HFMD. Makanan yang pedas, asam, atau masih panas sering makin menyakitkan saat ada sariawan. ASI tetap ditawarkan pada bayi. Untuk anak yang sudah makan, porsi kecil yang lembut dan tidak panas biasanya lebih mudah diterima. Bila asupan turun karena sariawan, yang dipantau adalah cairan yang masuk dan popok yang basah, dengan cara baca yang sama seperti pada panduan dehidrasi diare.
Demamnya sendiri mengikuti prinsip yang sama dengan demam lain: catat hari keberapa dan perilaku anak, bukan hanya angka di termometer. Patokannya ada di panduan demam balita.
Tawarkan cairan sedikit-sedikit dan sering, termasuk ASI, meski anak menolak makan. Nyeri mulut membuat satu tegukan besar terasa sakit, tetapi tegukan kecil yang diulang lebih mungkin masuk. Catat kapan terakhir kali popok basah.
Kapan Harus ke Dokter, Bukan Menunggu Ruamnya Kering
Sebagian besar anak membaik di rumah. IDAI tetap mengingatkan dua jalur yang tidak boleh ditunggu.
Yang pertama adalah dehidrasi. Lesi di mulut membuat anak sulit minum dan makan. Artikel Kemenkes menulis terganggunya asupan, termasuk cairan, dapat menyebabkan dehidrasi. Anak yang masih mau minum, masih kencing, dan masih bisa dibujuk tersenyum berada di jalur yang berbeda dari anak yang menolak segala cairan.
Yang kedua adalah komplikasi saraf, yang lebih jarang tetapi berat. IDAI menyebut laporan HFMD berat berupa meningitis dan ensefalitis yang membuat pasien dirawat intensif atau meninggal. Beberapa penelitian yang dikutip IDAI menunjukkan HEV 71 merupakan strain yang paling sering terkait HFMD berat. Bunda tidak bisa membedakan strain itu dari bentuk ruam di rumah. Yang bisa diamati adalah perilaku anak.
Segera periksa ke dokter atau IGD bila muncul salah satu dari ini:
- Anak tidak mau atau tidak mampu minum, atau muntah setiap kali diberi cairan
- Jarang buang air kecil, atau anak sangat lemas dan sulit dibangunkan
- Kesadaran berubah atau kejang
- Anggota gerak mendadak tidak bisa digerakkan, sesuai komplikasi kelumpuhan yang ditulis Kemenkes
IDAI menempatkan dehidrasi, meningitis, dan ensefalitis sebagai komplikasi yang membutuhkan penanganan. Artikel Kemenkes tentang flu Singapura menambahkan meningitis, ensefalitis, dan kelumpuhan sebagai komplikasi serius. Satu tanda berat sudah cukup menjadi alasan berangkat.
Saat berangkat, catat hari pertama demam, lokasi ruam, berapa banyak anak minum, kapan terakhir buang air kecil, dan apakah ada anak lain di rumah atau sekolah yang sedang ruam serupa.
Cegah Penularan di Rumah, Sekolah, dan Tempat Penitipan
IDAI menulis belum ada vaksin untuk mencegah HFMD pada saat artikel itu disusun, sehingga penderita sebaiknya diisolasi agar penularan tidak berlanjut. Kemenkes menuliskan tidak ada pencegahan khusus. Yang menurunkan risiko adalah perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk cuci tangan pakai sabun.
Langkah yang disebut kedua sumber itu, dan yang bisa dikerjakan hari ini:
- Cuci tangan pakai sabun setelah ganti popok, setelah mengelap ingus, dan sebelum makan
- Tutup hidung dan mulut saat batuk atau bersin
- Jangan berbagi sendok, gelas, dan handuk dengan anak yang sedang sakit
- Bersihkan permukaan yang sering dipegang
- Hindari menyentuh mata dan mulut dengan tangan yang belum dicuci
IDAI mencatat kejadian luar biasa lebih sering di lingkungan tertutup dan padat: sekolah, panti asuhan, asrama, pondok pesantren, dan tempat penitipan anak. Karena penularan paling tinggi di minggu pertama, dan sebagian anak masih mengeluarkan virus beberapa hari sampai minggu setelah gejala hilang, keputusan kembali ke sekolah sebaiknya mengikuti arahan dokter dan aturan fasilitas. Ruam yang sudah kering bukan satu-satunya patokan, sebab tinja masih dapat mengandung virus.
Orang tua dan anak mencuci tangan di wastafel, pakaian lengkap
Jangan kirim si kecil ke sekolah atau penitipan selama ia masih demam atau tidak mau minum. IDAI menempatkan isolasi sebagai cara memutus penularan di lingkungan padat. Kabari guru bahwa ada kemungkinan HFMD, supaya anak lain yang demam dan menolak makan bisa dipantau lebih cepat.
Catat Perjalanan Sakit dengan Tumbuhku
HFMD sering datang bersamaan dengan saudara yang tertular bergiliran. Yang ditanyakan dokter hampir selalu sama: hari keberapa demam dimulai, apakah anak masih minum, dan apakah ada tanda lemas. Detail itu hilang kalau hanya diingat.
Tumbuhku membantu di bagian yang mudah tercecer:
- Riwayat Kesehatan Digital menyimpan awal demam, lokasi ruam, cairan yang masih masuk, dan hasil pemeriksaan.
- Growth Tracker memantau berat setelah beberapa hari nafsu makan turun, supaya penurunan yang tidak pulih tidak terlewat.
- Kalkulator Usia membantu membaca apakah si kecil masih di usia yang paling sering tertular, yaitu balita, saat ada wabah di sekolah atau penitipan.
Catatan yang urut membuat keputusan "masih di rumah atau berangkat sekarang" tidak bergantung pada ingatan di malam yang panjang.


