ASI Bubuk Viral: Kenapa IDAI Bilang Jangan Dulu
Nutrisi22 September 202611 menit baca

ASI Bubuk Viral: Kenapa IDAI Bilang Jangan Dulu

IDAI belum merekomendasikan ASI bubuk yang sedang viral. Pahami bukti yang masih terbatas, risiko kontaminasi, dan cara menyimpan ASI perah yang lebih aman.

Disusun oleh AI Tumbuhku

Artikel ini dibuat secara otomatis menggunakan teknologi AI berdasarkan informasi dari sumber medis terpercaya. Konten ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan saran medis profesional. Selalu konsultasikan ke dokter untuk penanganan yang tepat.

Freezer yang sudah penuh, perjalanan dinas, atau cuti yang tinggal sebentar sering membuat jasa "ASI tahan tiga tahun" terdengar melegakan. ASI bubuk adalah air susu ibu (ASI) perah yang dikeringbekukan, atau freeze-drying (lyophilization), sampai airnya hilang dan yang tersisa berbentuk bubuk.

Keinginan Bunda agar si kecil tetap mendapat ASI itu tepat. Yang belum tepat adalah mengganti cara simpan yang sudah punya panduan dengan proses yang Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) belum merekomendasikan. Tulisan ini memilah klaim yang beredar, alasan Satgas ASI IDAI, dan cara menyimpan ASI perah segar atau beku yang sudah ada aturannya.

Apa yang sebenarnya dijual tren ASI bubuk

Menurut HaiBunda, kehebohan ini bermula dari unggahan influencer yang memakai jasa perusahaan untuk mengubah ASI perah menjadi bubuk. detikHealth lalu meminta keterangan Satgas ASI IDAI.

Proses yang dijelaskan dalam keterangan itu berjalan kira-kira begini. ASI dibekukan pada suhu sekitar minus 50 derajat Celsius selama 3 sampai 5 jam, lalu airnya ditarik lewat sublimasi sekitar dua hari, dari padat langsung menjadi uap tanpa fase cair. Satu liter ASI umumnya menghasilkan sekitar 140 gram bubuk. Tujuannya memperpanjang umur simpan, dari sekitar 6 bulan di dalam freezer menjadi sekitar 3 tahun, sekaligus menghemat ruang bagi ibu yang sering bepergian.

Angka-angka itu menjelaskan daya tarik trennya. Angka itu belum sama dengan bukti bahwa bubuknya aman dan gizinya tetap utuh untuk si kecil.

Kenapa IDAI bilang jangan dulu

Ketua Satgas ASI IDAI, dr. Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, Sp.A(K), mengatakan kepada detikHealth pada 16 Mei 2024 bahwa ASI bubuk belum bisa direkomendasikan di Indonesia.

"Sampai saat ini, kita belum bisa merekomendasikan (ASI bubuk) di Indonesia."

Alasannya bukan karena menyusui itu repot, melainkan karena jalurnya belum jelas. Belum ada aturan pengolahan yang disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Rantai dari mencuci tangan, membersihkan payudara, memerah, menyimpan, sampai menjadi bubuk panjang, dan setiap langkah bisa membuka celah kuman. dr. Naomi menekankan bahwa sesuatu yang diberikan ke bayi, apalagi di bawah satu tahun dan di bawah enam bulan, harus benar-benar aman dan sudah diuji.

Posisi itu tidak berubah pada 2026. Sekretaris Satgas ASI IDAI, Wiyarni Pambudi, mengatakan kepada Kompas pada 3 Agustus 2026 bahwa ASI bubuk sempat populer, tetapi karena tidak didukung bukti ilmiah yang kuat, IDAI tetap mengutamakan pemberian ASI secara langsung.

Info

Satgas ASI IDAI juga mencatat bahwa CDC, American Academy of Pediatrics, dan FDA belum mengeluarkan aturan atau rekomendasi resmi untuk freeze-drying ASI. Ketiadaan pedoman itulah yang membuat IDAI memilih hati-hati, bukan buru-buru mengikuti unggahan yang viral.

Tiga alasan IDAI belum merekomendasikan ASI bubukTiga alasan IDAI belum merekomendasikan ASI bubuk

WHO dan UNICEF merekomendasikan bayi mendapat ASI saja selama 6 bulan pertama, lalu ASI dilanjutkan sampai usia 2 tahun atau lebih bersama makanan pendamping yang aman. Lembar fakta itu berbicara tentang menyusui, bukan tentang ASI yang dikeringkan menjadi bubuk. Manfaat menyusui langsung selama enam bulan dibahas terpisah di artikel ASI eksklusif 6 bulan. Fokus tulisan ini ada di tempat lain: aman tidaknya ASI yang diubah menjadi bubuk.

Dua hal yang belum beres: gizi dan kebersihan

Rasio gizi dan zat kekebalan belum jelas

Dalam keterangan pers 8 Mei 2024 yang dikutip detikHealth, dr. Naomi mengatakan bahwa tanpa bukti penelitian yang memadai, belum jelas apakah ASI hasil freeze-drying masih punya rasio protein, lemak, dan karbohidrat yang tepat, berikut zat aktif untuk kekebalan serta tumbuh kembang.

Pembekuan biasa saja sudah mengubah komponen ASI. IDAI, lewat keterangan yang sama, menyebut perubahan yang sudah diteliti pada ASI beku: pecahnya membran gumpalan lemak, perubahan misel kasein, dan turunnya faktor bioaktif protein semakin lama ASI dibekukan. Dampak pengeringan beku pada komponen penting yang lain belum diketahui secara pasti.

Hasil riset yang ada pun belum searah. dr. Naomi mencontohkan temuan di Australia yang menilai kadar protein ASI bubuk turun, sementara lemaknya tidak. Itu alasan untuk menunggu bukti yang lebih utuh, bukan alasan untuk menyimpulkan semua produk sama.

Tidak dipasteurisasi, lalu dicampur air lagi

Metode ini sengaja tidak melewati pasteurisasi, supaya probiotik di dalam ASI tidak mati. Akibatnya, kuman yang terbawa sejak memerah tidak ikut dibersihkan. Risiko itu paling nyata saat bubuk dicampur air kembali sebelum diminum si kecil.

Perhatian

Satgas ASI IDAI meminta semua pihak tidak gegabah mempromosikan atau memberikan ASI freeze-dried, terutama pada bayi prematur, bayi dengan gangguan kekebalan, dan bayi dengan penyakit kronis. Panduan simpan ASI perah yang ada juga ditulis untuk bayi cukup bulan yang sehat, bukan untuk bayi yang dirawat.

dr. Naomi tetap mengingatkan bahwa menyusui langsung bukan sekadar mengisi perut. Kontak itu menumbuhkan rasa aman dan ikatan. Menyusui dan memerah memang melelahkan, dan wajar bila Bunda mencari jalan yang lebih mudah. Jalan yang lebih mudah itu belum tentu jalan yang sudah teruji.

Simpan ASI perah segar dan beku, begini panduannya

Selama bukti ASI bubuk belum cukup, pilihan yang sudah punya panduan adalah menyusui langsung, lalu ASI perah segar atau beku bila Bunda dan si kecil terpisah. Tiga sumber di bawah tidak menulis angka yang persis sama. Tabel ini menampilkan ketiganya apa adanya, supaya batas waktunya tidak dicampur menjadi satu angka baru.

Tempat simpanKemenkes, Ayo Sehat (28 Juni 2024)IDAI, artikel klinik (28 Agustus 2013)CDC (diperbarui 14 Agustus 2026)
Suhu ruang27–32°C maksimal 4 jam; di bawah 25°C maksimal 6–8 jam25°C atau lebih rendah: 6–8 jam; di atas 25°C: 2–4 jam25°C atau lebih dingin: hingga 4 jam
Tas pendinginsekitar 15°C, maksimal 24 jamcooler bag dengan ice pack, 24 jamcooler dengan ice pack, hingga 24 jam
Kulkasdi bawah 4°C, 2–3 hari4°C, sampai 5 harihingga 4 hari
Freezer1 pintu (minus 15 sampai 0°C): 2 minggu; 2 pintu (minus 20 sampai minus 18°C): 3–6 bulandi dalam kulkas (minus 15°C): 2 minggu; pintu terpisah (minus 18°C): 3–6 bulan; deep freezer (minus 20°C): 6–12 bulansekitar 6 bulan paling baik; hingga 12 bulan masih dapat diterima

Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom.

Artikel klinik IDAI itu lebih lama daripada laman Kemenkes dan CDC. Panduan CDC diadaptasi dari protokol Academy of Breastfeeding Medicine untuk pemakaian di rumah pada bayi cukup bulan. Selama angkanya belum seragam, patokan rumah yang lebih hati-hati adalah batas yang lebih pendek, terutama bila suhu kulkas tidak dicek dan si kecil masih kecil. Bayi prematur atau yang sedang dirawat membutuhkan angka dari dokternya, bukan dari tabel ini.

Langkah yang sama di ketiga panduan

  1. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum memerah dan sebelum menyimpan.
  2. Pakai wadah bersih bertutup rapat. CDC menganjurkan kantong khusus ASI atau wadah food-grade dari kaca maupun plastik bertutup rapat, dan melarang kantong plastik biasa serta liner botol sekali pakai. Artikel klinik IDAI mengutamakan kaca atau plastik keras untuk simpanan lama, dan membatasi kantong plastik khusus untuk jangka pendek di bawah 72 jam karena sebagian komponen ASI bisa menempel di plastik.
  3. Bagi dalam porsi sekali minum. IDAI menyebut sekitar 60 sampai 120 mL, supaya sisa yang tidak habis tidak perlu disimpan lagi.
  4. Tulis nama si kecil dan tanggal perah pada label tahan air. Pakai yang paling lama lebih dulu.
  5. Jangan simpan di pintu kulkas atau pintu freezer. Suhu di situ naik turun setiap pintu dibuka.
  6. Sisakan ruang sekitar 2,5 cm di bawah tutup karena ASI mengembang saat beku.
  7. ASI yang diperah pada hari yang sama boleh digabung setelah ASI yang baru didinginkan minimal 1 jam. Jangan menuang ASI hangat ke ASI yang sudah beku. Hari yang berbeda disimpan di wadah yang berbeda.
  8. Cairkan yang paling lama lebih dulu: semalaman di kulkas, atau dalam air hangat. Jangan memakai microwave atau api kompor. Microwave memanaskan tidak merata dan dapat merusak komponen ASI.
  9. Goyangkan pelan supaya krim tercampur. Jangan dikocok kuat.
  10. Jangan membekukan ulang ASI yang sudah dicairkan atau dihangatkan. Sisa yang sudah diminum tidak dipakai lagi. CDC masih memberi jendela 2 jam untuk sisa di botol, lalu dibuang. Anjuran IDAI lebih ketat: sisa itu tidak digunakan ulang.

Kemenkes menambahkan dua hal praktis. Hindari perubahan suhu yang terlalu ekstrem. Saat akan diberikan, rendam wadah dalam air hangat, lalu tuang ke gelas atau mangkuk kaca atau keramik, bukan plastik atau melamin.

Untuk jam kerja, artikel IDAI tentang ibu bekerja menganjurkan ASI perah diberikan dengan cangkir, sendok, atau pipet. Botol dapat mengganggu penyusuan langsung saat Bunda sudah di rumah. Bawa pulang dengan tas pendingin dan ice pack, lalu masukkan ke kulkas atau freezer setiba di rumah. Batas di tas pendingin yang disepakati ketiga sumber adalah 24 jam.

Tips

Simpan ASI perah di bagian dalam kulkas, bukan di pintu, dan beri label tanggal. Bila Bunda ragu ASI segar akan terpakai dalam beberapa hari, bekukan lebih awal. CDC menyarankan pembekuan segera bila ASI tidak akan habis dalam 4 hari, supaya mutunya lebih terjaga.

Perlengkapan menyimpan ASI perah di rumahPerlengkapan menyimpan ASI perah di rumah

Kalau Bunda sudah terlanjur memakai jasa itu

Tidak perlu merasa gagal. Banyak ibu memilih jasa ini karena ingin si kecil tetap mendapat ASI, bukan karena ingin mencoba hal yang aneh. Yang bisa dilakukan sekarang cukup konkret.

  • Hentikan dulu pemberian bubuk itu ke si kecil.
  • Lanjutkan menyusui langsung. Bila sedang terpisah, pakai ASI perah yang disimpan dengan batas waktu di atas.
  • Catat kapan bubuk dibuat, bagaimana disimpan, dan kapan diberikan. Catatan itu lebih berguna saat konsultasi daripada ingatan yang samar.
  • Bicara dengan dokter anak sebelum bubuk itu dipakai lagi, terutama bila si kecil prematur, usianya di bawah 6 bulan, atau punya gangguan kekebalan maupun penyakit kronis.
  • Bawa si kecil periksa bila setelah minum muncul demam, muntah berulang, diare, atau ia tampak lemas dan tidak mau menyusu.

Dukungan di rumah ikut menentukan apakah ASI perah biasa cukup, tanpa perlu diubah menjadi bubuk. Artikel klinik IDAI menyebut keberhasilan menyusui pada ibu bekerja bergantung pada suami, keluarga, rekan kerja, dan tempat memerah yang bukan toilet. Membantu jadwal perah dan menjaga stok berlabel sering lebih berguna daripada mengejar umur simpan tiga tahun.

Pantau asupan dan tumbuh kembang dengan Tumbuhku

Pertanyaan yang akhirnya paling berguna bukan "apakah bubuk ini viral", melainkan apakah si kecil tumbuh baik dari ASI yang benar-benar ia terima. Berat dan tinggi yang hanya diingat dari posyandu mudah tertukar, apalagi saat pola minum berubah karena Bunda kembali bekerja.

Tumbuhku membantu Bunda membaca pola itu, bukan menggantikan dokter.

  • Grafik pertumbuhan — berat dan tinggi si kecil diletakkan pada kurva WHO, sehingga perubahan dari bulan ke bulan terlihat.
  • Status gizi — z-score (skor simpangan terhadap standar WHO) terbaca dari angka yang Bunda catat, tanpa hitung manual.
  • Riwayat yang bisa dibawa konsultasi — catatan pertumbuhan tersimpan, jadi pembicaraan dengan dokter dimulai dari data, bukan dari ingatan.

Dengan begitu Bunda bisa tenang memakai cara simpan yang sudah ada panduannya, lalu melihat apakah asupan itu tercermin pada pertumbuhan si kecil.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apakah ASI bubuk aman diberikan ke si kecil?

IDAI belum merekomendasikannya. Pada Mei 2024 Ketua Satgas ASI IDAI mengatakan belum bisa merekomendasikan ASI bubuk di Indonesia karena pengolahan belum punya aturan yang disetujui BPOM dan ada risiko kontaminasi. Pada 3 Agustus 2026 Sekretaris Satgas ASI IDAI menegaskan lagi bahwa bukti ilmiahnya belum kuat, sehingga pemberian ASI langsung tetap diutamakan.

Apa bedanya ASI bubuk dengan ASI beku biasa?

ASI beku adalah ASI perah yang disimpan di freezer dan kembali cair saat dicairkan. ASI bubuk melewati pengeringan beku supaya airnya hilang, dengan klaim tahan sekitar tiga tahun. IDAI menilai dampak pengeringan beku pada protein, lemak, karbohidrat, dan zat kekebalan belum cukup diteliti.

Berapa lama ASI perah boleh disimpan di rumah?

Angkanya belum seragam. Kemenkes di Ayo Sehat menulis suhu ruang 27 sampai 32 derajat maksimal 4 jam, di bawah 25 derajat maksimal 6 sampai 8 jam, kulkas di bawah 4 derajat selama 2 sampai 3 hari, dan freezer dua pintu selama 3 sampai 6 bulan. Artikel klinik IDAI yang lebih lama menyebut kulkas 4 derajat sampai 5 hari. CDC yang diperbarui 14 Agustus 2026 menyebut suhu ruang hingga 4 jam, kulkas hingga 4 hari, dan freezer 6 bulan paling baik serta 12 bulan masih dapat diterima. Patokan rumah yang lebih hati-hati adalah batas yang lebih pendek.

Apakah CDC, FDA, atau BPOM sudah mengizinkan ASI bubuk?

Menurut keterangan Satgas ASI IDAI yang dikutip detikHealth dan Kompas, belum ada rekomendasi resmi dari CDC, American Academy of Pediatrics, maupun FDA untuk metode ini. Di Indonesia, IDAI menilai belum ada aturan pengolahan yang disetujui BPOM. Jadi belum ada lampu hijau dari lembaga tersebut.

Bunda sudah terlanjur membuat ASI bubuk. Harus bagaimana?

Hentikan dulu pemberiannya ke si kecil. Lanjutkan menyusui langsung atau ASI perah yang disimpan sesuai panduan. Catat kapan bubuk itu dibuat dan diberikan, lalu diskusikan dengan dokter anak sebelum dipakai lagi, apalagi bila si kecil prematur, usianya di bawah 6 bulan, atau muncul demam, muntah, atau diare.

Catatan Medis

Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan konsultasi dokter anak. Bila si kecil sudah mengonsumsi ASI bubuk lalu muncul demam, muntah, diare, atau tampak lemas dan tidak mau menyusu, periksakan ke fasilitas kesehatan.

Referensi

  1. IDAI Tak Rekomendasikan Pemberian ASI Bubuk buat Bayi, Ada Risiko Kontaminasi — detikHealth, 16 Mei 2024
  2. IDAI Buka Suara soal Viral ASI Perah Diproses Jadi Bubuk — detikHealth, 9 Mei 2024
  3. Kata IDAI soal ASI Perah yang Diproses Jadi Bubuk, Bagaimana Efeknya? — detikHealth, 10 Mei 2024
  4. ASI Bubuk Tidak Direkomendasikan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Ini Risiko Bahayanya — HaiBunda, 1 Juni 2024
  5. IDAI soal Penggunaan ASI Bubuk: Belum Ada Bukti Ilmiah yang Memadai — Kompas, 3 Agustus 2026
  6. Penyimpanan ASI Perah — IDAI
  7. Sukses Menyusui Saat Bekerja — IDAI
  8. Ingin Bayi Tumbuh Sehat dan Cerdas? ASI Eksklusif 6 Bulan Kuncinya — Kemenkes, Ayo Sehat
  9. Infant and young child feeding — WHO
  10. Breast Milk Storage and Preparation — CDC, diperbarui 14 Agustus 2026
Bagikan Artikel

Bantu orang tua lain dengan membagikan informasi ini.

Pantau tumbuh kembang si kecil dengan data yang jelas

Catat milestone, pantau pertumbuhan, dan jadwal imunisasi — semua gratis.

Coba Tumbuhku gratis

Tidak perlu kartu kredit