Speech delay, atau keterlambatan bicara, adalah kondisi ketika kemampuan bicara dan bahasa si kecil berada di bawah tahapan yang umumnya dicapai anak seusianya. Di banyak rumah Indonesia, si kecil mendengar dua bahasa sejak kecil: bahasa Indonesia dan bahasa daerah, atau bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Dari situ sering muncul nasihat yang sama, yaitu matikan salah satu bahasa supaya si kecil tidak terlambat bicara.
Nasihat itu tidak sejalan dengan bukti klinis. Setelah membaca, Bunda bisa menghitung kosakata dari semua bahasa sekaligus, memisahkan variasi yang masih wajar dari red flag IDAI, dan tahu kapan catatannya cukup dilanjutkan di rumah serta kapan waktunya ke dokter anak.
Dua bahasa bukan penyebab speech delay
Anggapan bahwa mengajar dua bahasa atau lebih membuat anak speech delay adalah mitos. Kompas pada 24 Juli 2026 mengutip Prof. Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yang menyebut anggapan itu mitos. Dalam kutipan yang sama, ia mengatakan anak yang bisa multibahasa justru lebih pintar secara kognitif, dan menyarankan latihan menceritakan kembali kegiatan hari itu dalam bahasa daerah.
Konsensus patologi wicara menjelaskan mekanismenya, bukan hanya label mitos. Portal praktik American Speech-Language-Hearing Association (ASHA) tentang late language emergence (munculnya bahasa yang terlambat) menyatakan kemampuan belajar dan memakai bahasa tidak tampak terhambat karena anak mempelajari lebih dari satu bahasa. Ketika kosakata digabung, peneliti menemukan anak bilingual menambah kata dengan laju yang setara dengan anak satu bahasa. ASHA menyimpulkan keterlambatan itu bukan akibat mengenalkan bahasa kedua atau memperoleh dua bahasa sekaligus. Membatasi anak yang terlambat bahasa hanya pada satu bahasa tidak perlu, dan tidak bermanfaat.
Halaman orang tua American Academy of Pediatrics (AAP), diperbarui 20 November 2025, menjawab pertanyaan yang sama secara langsung. Memakai lebih dari satu bahasa pada bayi dan batita tidak menyebabkan keterlambatan komunikasi. Gangguan bicara atau bahasa juga tidak disebabkan oleh belajar banyak bahasa. Milestone awal seperti senyum, tawa, dan ocehan (babbling, yaitu pengulangan suku kata seperti bababa) sama di semua bahasa. Kata pertama umumnya muncul sekitar usia 12 bulan, dan frase dua kata umumnya muncul sekitar usia 24 bulan, berapa pun bahasa yang didengar si kecil.
Artikel klinik IDAI tentang keterlambatan bicara tidak memasukkan dwibahasa ke daftar penyebab. Yang disebut di sana adalah gangguan pendengaran, gangguan pada otak, autisme, dan gangguan artikulasi karena kelainan organ mulut. Artikel pencegahan IDAI menambah penyebab yang sejenis: kelainan organ penghasil suara, gangguan perilaku, gangguan perkembangan umum, gangguan bahasa spesifik, disabilitas intelektual, kurang stimulasi, dan masalah psikososial. Dwibahasa tidak ada di daftar itu.
Belajar dua bahasa atau lebih tidak menyebabkan speech delay. Yang sering tertukar adalah kosakata satu bahasa yang memang lebih sedikit, dengan keterlambatan yang muncul di semua bahasa. Patokan yang dipakai adalah jumlah kata dari seluruh bahasa yang si kecil pakai.
Artikel klinik IDAI yang sama menyebut keterlambatan bicara dan bahasa dialami sekitar 5–8% anak usia prasekolah. Angka itu menjelaskan kenapa sebagian anak bilingual tetap perlu evaluasi. Penyebabnya dicari pada pendengaran, stimulasi, dan perkembangan lain. Bahasa daerah atau bahasa Inggris di rumah bukan tersangkanya.
Hitung kosakata gabungan, bukan satu bahasa saja
Kesalahan yang paling sering terjadi adalah membandingkan anak bilingual dengan patokan satu bahasa, lalu hanya menghitung bahasa Indonesia. AAP memberi contoh cara menjumlahkan. Anak usia 2 tahun yang berbahasa Inggris mungkin punya sekitar 50 kata. Anak yang berbahasa Inggris dan Spanyol mungkin punya sekitar 25 kata di tiap bahasa. Totalnya sama. Contoh ini cara menghitung, bukan ambang untuk mendiagnosis.
Di rumah Indonesia, logikanya sama. Dua puluh kata bahasa Indonesia ditambah tiga puluh kata bahasa Jawa, Sunda, atau Inggris adalah lima puluh kata. Kata "susu" dan "milk" dihitung dua, karena masing-masing benar-benar diucapkan. Ocehan tanpa arti tidak masuk hitungan.
| Yang Bunda amati | Yang keliru disimpulkan | Cara menghitung yang tepat |
|---|---|---|
| Sedikit kata bahasa Indonesia | Langsung disebut speech delay | Tambahkan kata dari bahasa lain, lalu lihat totalnya |
| Kalimat campur dua bahasa | Dianggap si kecil bingung | Wajar. AAP menyebut campur bahasa bukan tanda kebingungan |
| Belum ada kata bermakna di bahasa mana pun pada usia 16 bulan | Dibilang wajar karena bilingual | Red flag IDAI. Periksakan ke dokter anak |
Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom.
Dua tumpukan kata dari bahasa berbeda dijumlahkan menjadi satu total
Mencampur bahasa dalam satu kalimat, misalnya "Bunda, adik mau ice cream" atau "Ayah, aku arep turu", adalah hal biasa. AAP menulis bahwa anak multibahasa kadang mencampur tata bahasa atau mengambil kata dari semua bahasa yang ia kuasai. Itu bukan tanda si kecil bingung. Menjelang usia 3 tahun, banyak anak sudah bisa memilih bahasa sesuai lawan bicara: bahasa daerah dengan kakek, bahasa Indonesia dengan guru.
Selama tujuh hari, catat kata bermakna yang si kecil ucapkan sendiri, satu baris per bahasa. Jumlahkan di akhir minggu. Bandingkan total itu dengan usia si kecil, bukan satu kolom dengan anak tetangga yang hanya mendengar bahasa Indonesia.
ASHA memakai satu kriteria penelitian yang sering dikutip untuk late language emergence pada anak satu bahasa: kosakata ekspresif kurang dari 50 kata dan belum ada gabungan dua kata pada usia 24 bulan. Kriteria itu tidak dipakai dengan menghitung satu bahasa saja pada anak bilingual. Bila total dari semua bahasa tetap sangat sedikit dan frase dua kata belum muncul, pola itu masuk wilayah yang perlu dievaluasi.
Rentang yang ditulis IDAI juga perlu dibaca utuh. Pada usia 18 bulan, kosakata yang biasa dicapai berada di kisaran 5–50 kata. Itu gambaran perkembangan, bukan syarat minimal 50 kata. Tanda waspadanya lebih tegas: tidak ada kata bermakna pada usia 16 bulan.
Red flag: kapan Bunda perlu ke dokter
Tanda di tabel berikut diambil dari dua artikel klinik IDAI yang masih terbit di situs resminya, Keterlambatan Bicara dan Mencegah Terlambat Bicara pada Anak. Tanda sosial dan tanda pendengaran tidak berubah hanya karena di rumah ada dua bahasa. Tanda kosakata dan frase dihitung dari semua bahasa.
| Usia | Tanda yang perlu diperiksakan | Di rumah dwibahasa |
|---|---|---|
| Sampai 6 bulan | Tidak bersuara sama sekali. Pada usia 0–6 bulan, IDAI juga mewaspadai bila tidak ada babbling dan bila si kecil tidak menoleh saat dipanggil dari belakang | Ocehan awal sama di semua bahasa |
| 12 bulan | Belum babbling. Tidak menunjuk dengan jari. Ekspresi wajah kurang | Isyarat dan ocehan, bukan jumlah kata satu bahasa |
| 16 bulan | Tidak ada satu kata bermakna selain ocehan atau meniru | Kata dari bahasa mana pun dihitung |
| 20 bulan | Tidak menunjuk untuk memperlihatkan minat pada benda, atau kurang berbagi perhatian | Tanda sosial, bukan efek dwibahasa |
| 24 bulan | Belum ada frase atau kalimat dua kata yang bermakna dan dapat dimengerti | Frase boleh campur bahasa, asal bermakna |
| 30 bulan | Orang tua masih tidak mengerti ucapan si kecil, atau si kecil sering mengulang ucapan orang | Perlu evaluasi, jangan ditunda |
| Usia berapa pun | Kemampuan bicara atau sosial yang sudah ada menghilang, atau respons terhadap suara tidak konsisten | Segera ke dokter anak |
Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom.
IDAI meminta anak dibawa ke dokter bila ada kemunduran kemampuan bicara atau kemampuan sosial, pada usia berapa pun. Respons yang tidak konsisten terhadap suara masuk tanda bahaya yang sama, karena gangguan pendengaran adalah salah satu penyebab yang perlu disingkirkan lebih dulu. Pada perkembangan yang berjalan biasa, IDAI menulis bahwa kata "mama" dan "papa" dengan arti muncul sekitar usia 9–12 bulan. Usia itu gambaran yang umum. Garis untuk memeriksakan ketiadaan kata bermakna ada di usia 16 bulan, kecuali tanda lain di tabel sudah muncul lebih awal.
Tiga tanda bahaya bicara: respons suara, menunjuk, dan kata yang hilang
Bila red flag di tabel muncul di semua bahasa yang si kecil dengar, dwibahasa bukan penjelasannya. Jangan menunggu ulang tahun berikutnya, dan jangan mematikan bahasa daerah sebagai pengganti pemeriksaan. Langkah pertama adalah dokter anak, yang dapat menilai perkembangan dan mempertimbangkan pemeriksaan pendengaran.
AAP menambahkan satu penegas. Bila ada gangguan bicara atau bahasa, tandanya muncul di semua bahasa yang dipakai anak, termasuk bahasa yang paling sering didengar di rumah. Anak dengan gangguan tetap bisa belajar bahasa tambahan. Yang tidak dianjurkan adalah menghentikan bahasa yang pengasuh tuturkan dengan fasih.
Evaluasi yang digambarkan IDAI dapat melibatkan dokter anak, dokter THT, serta psikolog atau psikiater anak, sesuai temuan. Tata laksana mengikuti penyebabnya. Stimulasi di rumah tetap berguna. Stimulasi itu tidak menggantikan pemeriksaan bila tanda bahaya sudah ada.
Dua kekhawatiran lain sering menempel di percakapan yang sama, padahal tanda dan langkahnya berbeda. Paparan layar dibahas di screen time dan speech delay. Kekhawatiran soal autisme dibahas di virtual autism: fakta vs mitos. Tulisan ini berhenti pada satu pertanyaan: apakah dua bahasa di rumah yang membuat si kecil terlihat lambat.
Stimulasi yang tetap jalan di rumah dua bahasa
IDAI menyebut pencegahan terlambat bicara bertumpu pada stimulasi yang baik dan ketepatan menemukan tanda awal. Kegiatan yang ditulis langsung di artikel itu: membaca dengan suara jelas, mengajak bercakap-cakap, membalas ocehan dengan kata sederhana, menjawab pertanyaan, dan bernyanyi. Gawai dan televisi, tulis IDAI, bukan metode stimulasi yang baik.
AAP menyarankan pengasuh memakai bahasa yang paling nyaman ia tuturkan. ASHA menyebut model bahasa yang kuat, di bahasa mana pun, membantu fondasi untuk bahasa lain. Bunda tidak wajib memisahkan bahasa secara kaku, misalnya satu orang hanya satu bahasa, supaya stimulasi dianggap sah. Yang lebih berguna dari hari ke hari:
- Sebut nama benda dan kegiatan saat mandi, makan, dan ganti pakaian, dalam bahasa yang Bunda kuasai dengan fasih.
- Balas ocehan si kecil, lalu beri jeda supaya ia mendapat giliran bersuara.
- Bacakan buku. Sediakan waktu cerita dalam bahasa daerah, seperti saran Stella Christie yang dikutip Kompas, dan waktu lain dalam bahasa Indonesia, supaya masing-masing bahasa terdengar utuh.
- Lanjutkan bahasa kedua. Kolom satu bahasa yang terlihat sepi belum berarti total katanya kurang.
- Simpan catatan tujuh hari itu. Bila ada red flag, bawa daftar kata per bahasa ke dokter anak supaya penilaian tidak hanya mendengar kesan "katanya masih sedikit".
Bunda tidak perlu merasa bersalah bila selama ini bahasa daerah dikurangi karena takut. Yang bisa dilakukan sekarang adalah menghitung total kata, melanjutkan bahasa yang fasih dituturkan pengasuh, dan memeriksakan si kecil bila ada tanda di tabel.
Pantau milestone bahasa dengan Tumbuhku
Membedakan kosakata yang terpecah di dua bahasa dari red flag yang perlu dokter mudah terasa jelas saat dibaca, lalu kabur lagi di minggu yang sibuk. Yang biasanya hilang adalah catatannya: kata apa yang sudah muncul, di bahasa mana, dan apakah bulan ini ada kemajuan atau ada kemampuan yang hilang.
Tumbuhku membantu Bunda menyimpan pantauan itu di checklist milestone:
- Checklist interaktif — centang kemampuan bahasa yang sudah muncul sesuai usia, dari ocehan sampai frase dua kata, bersama milestone lain di fase yang sama.
- Grafik kemajuan — lihat apakah ada penambahan dari waktu ke waktu, bukan kesan sesaat saat membandingkan si kecil dengan anak tetangga.
- Panduan perkembangan — tahu apa yang perlu diperhatikan di usia si kecil, supaya red flag di tabel tidak tertukar dengan variasi yang masih berjalan.
Manfaatnya konkret saat konsultasi. Bunda membawa daftar kata dari tiap bahasa dan centang milestone yang sudah atau belum tercapai. Penilaian dokter tidak bergantung pada satu bahasa yang kebetulan terdengar di ruang periksa.


