Anak Bilingual Speech Delay: Mitos vs Red Flag
Milestone22 September 202611 menit baca

Anak Bilingual Speech Delay: Mitos vs Red Flag

Mengajarkan dua bahasa tidak menyebabkan speech delay. Hitung kosakata gabungan, kenali red flag IDAI, lalu Bunda cek milestone bahasa si kecil di Tumbuhku.

Disusun oleh AI Tumbuhku

Artikel ini dibuat secara otomatis menggunakan teknologi AI berdasarkan informasi dari sumber medis terpercaya. Konten ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan saran medis profesional. Selalu konsultasikan ke dokter untuk penanganan yang tepat.

Speech delay, atau keterlambatan bicara, adalah kondisi ketika kemampuan bicara dan bahasa si kecil berada di bawah tahapan yang umumnya dicapai anak seusianya. Di banyak rumah Indonesia, si kecil mendengar dua bahasa sejak kecil: bahasa Indonesia dan bahasa daerah, atau bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Dari situ sering muncul nasihat yang sama, yaitu matikan salah satu bahasa supaya si kecil tidak terlambat bicara.

Nasihat itu tidak sejalan dengan bukti klinis. Setelah membaca, Bunda bisa menghitung kosakata dari semua bahasa sekaligus, memisahkan variasi yang masih wajar dari red flag IDAI, dan tahu kapan catatannya cukup dilanjutkan di rumah serta kapan waktunya ke dokter anak.

Dua bahasa bukan penyebab speech delay

Anggapan bahwa mengajar dua bahasa atau lebih membuat anak speech delay adalah mitos. Kompas pada 24 Juli 2026 mengutip Prof. Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yang menyebut anggapan itu mitos. Dalam kutipan yang sama, ia mengatakan anak yang bisa multibahasa justru lebih pintar secara kognitif, dan menyarankan latihan menceritakan kembali kegiatan hari itu dalam bahasa daerah.

Konsensus patologi wicara menjelaskan mekanismenya, bukan hanya label mitos. Portal praktik American Speech-Language-Hearing Association (ASHA) tentang late language emergence (munculnya bahasa yang terlambat) menyatakan kemampuan belajar dan memakai bahasa tidak tampak terhambat karena anak mempelajari lebih dari satu bahasa. Ketika kosakata digabung, peneliti menemukan anak bilingual menambah kata dengan laju yang setara dengan anak satu bahasa. ASHA menyimpulkan keterlambatan itu bukan akibat mengenalkan bahasa kedua atau memperoleh dua bahasa sekaligus. Membatasi anak yang terlambat bahasa hanya pada satu bahasa tidak perlu, dan tidak bermanfaat.

Halaman orang tua American Academy of Pediatrics (AAP), diperbarui 20 November 2025, menjawab pertanyaan yang sama secara langsung. Memakai lebih dari satu bahasa pada bayi dan batita tidak menyebabkan keterlambatan komunikasi. Gangguan bicara atau bahasa juga tidak disebabkan oleh belajar banyak bahasa. Milestone awal seperti senyum, tawa, dan ocehan (babbling, yaitu pengulangan suku kata seperti bababa) sama di semua bahasa. Kata pertama umumnya muncul sekitar usia 12 bulan, dan frase dua kata umumnya muncul sekitar usia 24 bulan, berapa pun bahasa yang didengar si kecil.

Artikel klinik IDAI tentang keterlambatan bicara tidak memasukkan dwibahasa ke daftar penyebab. Yang disebut di sana adalah gangguan pendengaran, gangguan pada otak, autisme, dan gangguan artikulasi karena kelainan organ mulut. Artikel pencegahan IDAI menambah penyebab yang sejenis: kelainan organ penghasil suara, gangguan perilaku, gangguan perkembangan umum, gangguan bahasa spesifik, disabilitas intelektual, kurang stimulasi, dan masalah psikososial. Dwibahasa tidak ada di daftar itu.

Info

Belajar dua bahasa atau lebih tidak menyebabkan speech delay. Yang sering tertukar adalah kosakata satu bahasa yang memang lebih sedikit, dengan keterlambatan yang muncul di semua bahasa. Patokan yang dipakai adalah jumlah kata dari seluruh bahasa yang si kecil pakai.

Artikel klinik IDAI yang sama menyebut keterlambatan bicara dan bahasa dialami sekitar 5–8% anak usia prasekolah. Angka itu menjelaskan kenapa sebagian anak bilingual tetap perlu evaluasi. Penyebabnya dicari pada pendengaran, stimulasi, dan perkembangan lain. Bahasa daerah atau bahasa Inggris di rumah bukan tersangkanya.

Hitung kosakata gabungan, bukan satu bahasa saja

Kesalahan yang paling sering terjadi adalah membandingkan anak bilingual dengan patokan satu bahasa, lalu hanya menghitung bahasa Indonesia. AAP memberi contoh cara menjumlahkan. Anak usia 2 tahun yang berbahasa Inggris mungkin punya sekitar 50 kata. Anak yang berbahasa Inggris dan Spanyol mungkin punya sekitar 25 kata di tiap bahasa. Totalnya sama. Contoh ini cara menghitung, bukan ambang untuk mendiagnosis.

Di rumah Indonesia, logikanya sama. Dua puluh kata bahasa Indonesia ditambah tiga puluh kata bahasa Jawa, Sunda, atau Inggris adalah lima puluh kata. Kata "susu" dan "milk" dihitung dua, karena masing-masing benar-benar diucapkan. Ocehan tanpa arti tidak masuk hitungan.

Yang Bunda amatiYang keliru disimpulkanCara menghitung yang tepat
Sedikit kata bahasa IndonesiaLangsung disebut speech delayTambahkan kata dari bahasa lain, lalu lihat totalnya
Kalimat campur dua bahasaDianggap si kecil bingungWajar. AAP menyebut campur bahasa bukan tanda kebingungan
Belum ada kata bermakna di bahasa mana pun pada usia 16 bulanDibilang wajar karena bilingualRed flag IDAI. Periksakan ke dokter anak

Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom.

Dua tumpukan kata dari bahasa berbeda dijumlahkan menjadi satu totalDua tumpukan kata dari bahasa berbeda dijumlahkan menjadi satu total

Mencampur bahasa dalam satu kalimat, misalnya "Bunda, adik mau ice cream" atau "Ayah, aku arep turu", adalah hal biasa. AAP menulis bahwa anak multibahasa kadang mencampur tata bahasa atau mengambil kata dari semua bahasa yang ia kuasai. Itu bukan tanda si kecil bingung. Menjelang usia 3 tahun, banyak anak sudah bisa memilih bahasa sesuai lawan bicara: bahasa daerah dengan kakek, bahasa Indonesia dengan guru.

Tips

Selama tujuh hari, catat kata bermakna yang si kecil ucapkan sendiri, satu baris per bahasa. Jumlahkan di akhir minggu. Bandingkan total itu dengan usia si kecil, bukan satu kolom dengan anak tetangga yang hanya mendengar bahasa Indonesia.

ASHA memakai satu kriteria penelitian yang sering dikutip untuk late language emergence pada anak satu bahasa: kosakata ekspresif kurang dari 50 kata dan belum ada gabungan dua kata pada usia 24 bulan. Kriteria itu tidak dipakai dengan menghitung satu bahasa saja pada anak bilingual. Bila total dari semua bahasa tetap sangat sedikit dan frase dua kata belum muncul, pola itu masuk wilayah yang perlu dievaluasi.

Rentang yang ditulis IDAI juga perlu dibaca utuh. Pada usia 18 bulan, kosakata yang biasa dicapai berada di kisaran 5–50 kata. Itu gambaran perkembangan, bukan syarat minimal 50 kata. Tanda waspadanya lebih tegas: tidak ada kata bermakna pada usia 16 bulan.

Red flag: kapan Bunda perlu ke dokter

Tanda di tabel berikut diambil dari dua artikel klinik IDAI yang masih terbit di situs resminya, Keterlambatan Bicara dan Mencegah Terlambat Bicara pada Anak. Tanda sosial dan tanda pendengaran tidak berubah hanya karena di rumah ada dua bahasa. Tanda kosakata dan frase dihitung dari semua bahasa.

UsiaTanda yang perlu diperiksakanDi rumah dwibahasa
Sampai 6 bulanTidak bersuara sama sekali. Pada usia 0–6 bulan, IDAI juga mewaspadai bila tidak ada babbling dan bila si kecil tidak menoleh saat dipanggil dari belakangOcehan awal sama di semua bahasa
12 bulanBelum babbling. Tidak menunjuk dengan jari. Ekspresi wajah kurangIsyarat dan ocehan, bukan jumlah kata satu bahasa
16 bulanTidak ada satu kata bermakna selain ocehan atau meniruKata dari bahasa mana pun dihitung
20 bulanTidak menunjuk untuk memperlihatkan minat pada benda, atau kurang berbagi perhatianTanda sosial, bukan efek dwibahasa
24 bulanBelum ada frase atau kalimat dua kata yang bermakna dan dapat dimengertiFrase boleh campur bahasa, asal bermakna
30 bulanOrang tua masih tidak mengerti ucapan si kecil, atau si kecil sering mengulang ucapan orangPerlu evaluasi, jangan ditunda
Usia berapa punKemampuan bicara atau sosial yang sudah ada menghilang, atau respons terhadap suara tidak konsistenSegera ke dokter anak

Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom.

IDAI meminta anak dibawa ke dokter bila ada kemunduran kemampuan bicara atau kemampuan sosial, pada usia berapa pun. Respons yang tidak konsisten terhadap suara masuk tanda bahaya yang sama, karena gangguan pendengaran adalah salah satu penyebab yang perlu disingkirkan lebih dulu. Pada perkembangan yang berjalan biasa, IDAI menulis bahwa kata "mama" dan "papa" dengan arti muncul sekitar usia 9–12 bulan. Usia itu gambaran yang umum. Garis untuk memeriksakan ketiadaan kata bermakna ada di usia 16 bulan, kecuali tanda lain di tabel sudah muncul lebih awal.

Tiga tanda bahaya bicara: respons suara, menunjuk, dan kata yang hilangTiga tanda bahaya bicara: respons suara, menunjuk, dan kata yang hilang

Perhatian

Bila red flag di tabel muncul di semua bahasa yang si kecil dengar, dwibahasa bukan penjelasannya. Jangan menunggu ulang tahun berikutnya, dan jangan mematikan bahasa daerah sebagai pengganti pemeriksaan. Langkah pertama adalah dokter anak, yang dapat menilai perkembangan dan mempertimbangkan pemeriksaan pendengaran.

AAP menambahkan satu penegas. Bila ada gangguan bicara atau bahasa, tandanya muncul di semua bahasa yang dipakai anak, termasuk bahasa yang paling sering didengar di rumah. Anak dengan gangguan tetap bisa belajar bahasa tambahan. Yang tidak dianjurkan adalah menghentikan bahasa yang pengasuh tuturkan dengan fasih.

Evaluasi yang digambarkan IDAI dapat melibatkan dokter anak, dokter THT, serta psikolog atau psikiater anak, sesuai temuan. Tata laksana mengikuti penyebabnya. Stimulasi di rumah tetap berguna. Stimulasi itu tidak menggantikan pemeriksaan bila tanda bahaya sudah ada.

Dua kekhawatiran lain sering menempel di percakapan yang sama, padahal tanda dan langkahnya berbeda. Paparan layar dibahas di screen time dan speech delay. Kekhawatiran soal autisme dibahas di virtual autism: fakta vs mitos. Tulisan ini berhenti pada satu pertanyaan: apakah dua bahasa di rumah yang membuat si kecil terlihat lambat.

Stimulasi yang tetap jalan di rumah dua bahasa

IDAI menyebut pencegahan terlambat bicara bertumpu pada stimulasi yang baik dan ketepatan menemukan tanda awal. Kegiatan yang ditulis langsung di artikel itu: membaca dengan suara jelas, mengajak bercakap-cakap, membalas ocehan dengan kata sederhana, menjawab pertanyaan, dan bernyanyi. Gawai dan televisi, tulis IDAI, bukan metode stimulasi yang baik.

AAP menyarankan pengasuh memakai bahasa yang paling nyaman ia tuturkan. ASHA menyebut model bahasa yang kuat, di bahasa mana pun, membantu fondasi untuk bahasa lain. Bunda tidak wajib memisahkan bahasa secara kaku, misalnya satu orang hanya satu bahasa, supaya stimulasi dianggap sah. Yang lebih berguna dari hari ke hari:

  • Sebut nama benda dan kegiatan saat mandi, makan, dan ganti pakaian, dalam bahasa yang Bunda kuasai dengan fasih.
  • Balas ocehan si kecil, lalu beri jeda supaya ia mendapat giliran bersuara.
  • Bacakan buku. Sediakan waktu cerita dalam bahasa daerah, seperti saran Stella Christie yang dikutip Kompas, dan waktu lain dalam bahasa Indonesia, supaya masing-masing bahasa terdengar utuh.
  • Lanjutkan bahasa kedua. Kolom satu bahasa yang terlihat sepi belum berarti total katanya kurang.
  • Simpan catatan tujuh hari itu. Bila ada red flag, bawa daftar kata per bahasa ke dokter anak supaya penilaian tidak hanya mendengar kesan "katanya masih sedikit".

Bunda tidak perlu merasa bersalah bila selama ini bahasa daerah dikurangi karena takut. Yang bisa dilakukan sekarang adalah menghitung total kata, melanjutkan bahasa yang fasih dituturkan pengasuh, dan memeriksakan si kecil bila ada tanda di tabel.

Pantau milestone bahasa dengan Tumbuhku

Membedakan kosakata yang terpecah di dua bahasa dari red flag yang perlu dokter mudah terasa jelas saat dibaca, lalu kabur lagi di minggu yang sibuk. Yang biasanya hilang adalah catatannya: kata apa yang sudah muncul, di bahasa mana, dan apakah bulan ini ada kemajuan atau ada kemampuan yang hilang.

Tumbuhku membantu Bunda menyimpan pantauan itu di checklist milestone:

  • Checklist interaktif — centang kemampuan bahasa yang sudah muncul sesuai usia, dari ocehan sampai frase dua kata, bersama milestone lain di fase yang sama.
  • Grafik kemajuan — lihat apakah ada penambahan dari waktu ke waktu, bukan kesan sesaat saat membandingkan si kecil dengan anak tetangga.
  • Panduan perkembangan — tahu apa yang perlu diperhatikan di usia si kecil, supaya red flag di tabel tidak tertukar dengan variasi yang masih berjalan.

Manfaatnya konkret saat konsultasi. Bunda membawa daftar kata dari tiap bahasa dan centang milestone yang sudah atau belum tercapai. Penilaian dokter tidak bergantung pada satu bahasa yang kebetulan terdengar di ruang periksa.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apakah anak bilingual pasti mengalami speech delay?

Tidak. Kompas pada 24 Juli 2026 mengutip Prof. Stella Christie yang menyebut anggapan itu mitos. American Academy of Pediatrics dan ASHA juga menyatakan belajar lebih dari satu bahasa tidak menyebabkan keterlambatan bicara. Yang dibandingkan adalah jumlah kata dari semua bahasa, bukan satu bahasa saja.

Bagaimana cara menghitung kosakata si kecil yang dwibahasa?

Jumlahkan kata bermakna yang si kecil ucapkan sendiri di setiap bahasa. Contoh American Academy of Pediatrics: sekitar 25 kata di satu bahasa ditambah sekitar 25 kata di bahasa lain setara dengan sekitar 50 kata pada anak satu bahasa di usia 2 tahun. Contoh itu cara menjumlahkan, bukan ambang diagnosis.

Kapan keterlambatan bicara perlu dibawa ke dokter?

Bawa ke dokter anak bila si kecil tidak bersuara sampai usia 6 bulan, belum mengoceh di 12 bulan, tidak menunjuk dengan jari di 12 bulan, belum punya satu kata bermakna di 16 bulan, belum menunjuk untuk berbagi minat di 20 bulan, atau belum merangkai dua kata bermakna di 24 bulan. Pada usia berapa pun, kemunduran kemampuan yang sudah ada atau respons suara yang tidak konsisten juga perlu evaluasi. Kata dan frase dihitung dari semua bahasa.

Apakah mencampur dua bahasa berarti si kecil bingung?

Tidak. American Academy of Pediatrics menyebut mencampur kata dari lebih dari satu bahasa dalam satu kalimat adalah hal yang biasa. Menjelang usia 3 tahun, banyak anak sudah bisa memilih bahasa sesuai lawan bicaranya.

Haruskah bahasa daerah dihentikan jika si kecil lambat bicara?

Tidak. ASHA menyatakan membatasi anak yang terlambat bahasa hanya pada satu bahasa tidak perlu dan tidak bermanfaat. Bila ada gangguan, tandanya muncul di semua bahasa yang dipakai. Bahasa yang paling fasih diucapkan pengasuh sebaiknya tetap dipakai, dan red flag tetap diperiksakan ke dokter anak.

Catatan Medis

Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan diagnosis dokter. Bila si kecil menunjukkan red flag bicara, tidak merespons suara secara konsisten, atau kehilangan kemampuan yang sudah dikuasai, segera periksakan ke dokter anak.

Referensi

  1. Kompas: Mitos atau Fakta, Ajarkan Anak Multibahasa Bikin Speech Delay?
  2. IDAI: Keterlambatan Bicara
  3. IDAI: Mencegah Terlambat Bicara pada Anak
  4. AAP HealthyChildren: Young Children Learning Multiple Languages, Parent FAQs
  5. ASHA: Late Language Emergence
Bagikan Artikel

Bantu orang tua lain dengan membagikan informasi ini.

Pantau tumbuh kembang si kecil dengan data yang jelas

Catat milestone, pantau pertumbuhan, dan jadwal imunisasi — semua gratis.

Coba Tumbuhku gratis

Tidak perlu kartu kredit